Rampungkan SMM SWA 2022, Indonesia Bidik Peningkatan Akses Air Bersih dan Sanitasi

JAKARTA – Indonesia merampungkan Sector Ministers' Meeting (SMM) Sanitation and Water for All (SWA) 2022 yang digelar 18-19 Mei 2022 di Jakarta. Sebagai negara pertama di Asia yang menjadi tuan rumah SMM SWA, Indonesia berhasil menghadirkan 69 menteri dan 300 peserta dari 37 negara dan organisasi internasional untuk membahas air dan sanitasi sebagai prioritas pembangunan di seluruh dunia. Menteri Perkerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menegaskan, SMM SWA 2022 menghasilkan solusi strategi peningkatan akses air bersih dan sanitasi, dukungan pemangku kepentingan, dan mengundang investasi baru terhadap sektor-sektor terkait.

Selain bertujuan membekali para pemimpin politik dengan bukti dan praktik terbaik untuk memprioritaskan investasi pada air dan sanitasi, SMM SWA 2022 juga mendorong terciptanya akuntabilitas berlandaskan kepercayaan dan komunikasi antar negara agar kolaborasi multisektor dapat menciptakan ketahanan dan inklusivitas, meski dalam kondisi krisis. "Akuntabilitas memerlukan dukungan data dan informasi yang valid dan terbaru untuk memastikan keakuratan prioritas penerima manfaat dan untuk memastikan agar tidak ada yang tertinggal," ujar Menteri Basuki, Kamis (19/5).

Akses terhadap air bersih dan sanitasi pada akhirnya akan mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (TPB/SDG). Terkait pembangunan berkelanjutan, SMM SWA 2022 menitikberatkan pada kolaborasi antar kementerian, baik di tingkat nasional maupun internasional, agar memandang isu air dan sanitasi sebagai hak asasi manusia. Untuk mencapai target penyediaan air bersih dan sanitasi, diperlukan dorongan politik, ide dan inovasi, koordinasi antar pemerintah pusat dan pemerintah daerah, hingga sosialisasi ke masyarakat. 

Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Kementerian PPN/Bappenas Josaphat Rizal Primana menekankan, target jangka panjang Indonesia yang dibahas di SMM SWA 2022 meliputi fasilitasi penguatan profil sektor air minum dan sanitasi dalam upaya memenuhi TPB/SDGs, utamanya Tujuan 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak sebagai pintu masuk pemulihan ekonomi dan kesehatan masyarakat pasca pandemi Covid-19. Target lainnya, yakni membangun pemahaman dan komitmen para pengambil keputusan, baik dari lembaga pemerintahan maupun mitra pembangunan, untuk memperkuat sektor minum dan sanitasi, serta terjalinnya kemitraan berkelanjutan dalam sektor air minum, sanitasi dan higienitas.

"Agar mencapai target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024 terhadap sektor akses air minum dan sanitasi aman di Indonesia, diperlukan peningkatan akses sebesar dua hingga tiga kali lipat per tahunnya. Berbagai upaya telah dilakukan melalui kolaborasi antar sektor dan antar tingkatan pemerintah, seperti pembangunan infrastruktur, penguatan kelembagaan, perubahan perilaku, dan inovasi layanan," ungkap Deputi Rizal.

Direktur Perumahan dan Kawasan Pemukiman Kementerian PPN/Bappenas Tri Dewi Virgiyanti menambahkan, ada tiga tantangan yang harus dilewati untuk bisa meningkatkan kualitas dan akses air minum dan sanitasi di Indonesia. Pertama, mengoordinasikan semua pemerintah daerah di Indonesia agar bisa berkomitmen ke isu air bersih dan sanitasi. Kedua, memastikan pendanaan untuk upaya-upaya pengembangan air bersih dan sanitasi. Ketiga, meningkatkan kesadaran masyarakat agar lebih memahami pentingnya air berkualitas dan sanitasi.

"Untuk kebutuhan komitmen terhadap integrasi isu ini, kita tidak hanya mengundang menteri-menteri sektor PUPR dari negara peserta SMM, tetapi juga menteri kesehatan, lingkungan hidup, keuangan, dan lainnya. Ini adalah upaya untuk menekankan pentingnya kebersamaan dan koordinasi antar lembaga agar isu akses air bersih dan sanitasi dapat diatasi dengan baik," tuturnya. Ke depan, Indonesia memiliki pekerjaan rumah untuk meningkatkan pencapaian TPB/SDGs, mengingat di 2021, akibat pandemi Covid-19, capaian tersebut sedikit tertinggal dari target.  Selain pandemi Covid-19, kondisi ekonomi, krisis iklim hingga kesehatan, juga menjadi penghambat upaya mencapai target tersebut. Di 2030 mendatang, Indonesia membidik target sebesar 100 persen akses sanitasi layak dan 30 persen akses sanitasi aman, serta 100 persen akses air minum layak dan 30 persen akses air minum aman.


Komentar (0)

Tinggalkan Komentar