Indonesia-Prancis Perkuat Kerja Sama Ilmiah melalui IndoKAKAO

Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Prancis menegaskan komitmen bersama terhadap inovasi, kerja sama ilmiah, dan pembangunan pertanian berkelanjutan melalui pelaksanaan Rapat Komite Pengarah (Steering Committee) Fase II Proyek IndoKAKAO di Jakarta, Rabu (17/6). Pertemuan yang diselenggarakan oleh Kementerian PPN/Bappenas bersama Kedutaan Besar Prancis di Indonesia dan The Centre de Cooperation Internationale en Recherche Agronomique pour le Developpement (CIRAD) tersebut meninjau capaian fase pertama sekaligus menyusun peta jalan strategis untuk memperluas dampak proyek terhadap sektor kakao Indonesia.

Pelaksanaan fase kedua IndoKAKAO berlangsung dalam kerangka Tahun Inovasi Prancis-Indonesia 2026 dan sejalan dengan Joint French-Indonesian Strategy on Education, Research and Mobility yang disepakati kedua negara. Melalui proyek ini, Indonesia dan Prancis memperkuat kolaborasi di bidang penelitian, inovasi, dan pertukaran pengetahuan guna menjawab berbagai tantangan struktural sektor kakao, termasuk produktivitas yang rendah, tanaman yang menua, ketahanan pangan, dan dampak perubahan iklim.

“Keberhasilan pengembangan kakao berkelanjutan tidak dapat dicapai oleh satu pihak saja. Oleh karena itu, keterlibatan aktif kementerian, lembaga penelitian, perguruan tinggi, pelaku usaha, lembaga pembiayaan, dan organisasi petani menjadi faktor penting untuk memastikan berbagai inovasi yang dikembangkan dapat diterapkan secara luas. Melalui Steering Committee ini, kami berharap tercipta kesepahaman mengenai langkah-langkah strategis yang perlu ditempuh bersama guna memperkuat daya saing sektor kakao Indonesia sekaligus meningkatkan manfaat ekonomi yang diterima petani,” ujar Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo A.A. Teguh Sambodo.

IndoKAKAO bertujuan mendorong industri kakao yang lebih berkelanjutan, kompetitif, dan inklusif melalui penguatan penelitian, inovasi, pengembangan kapasitas petani, peningkatan kualitas pascapanen, serta penerapan praktik budidaya berkelanjutan. Program ini diharapkan dapat mendukung peningkatan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat daya saing industri kakao Indonesia di pasar global.

“Proyek IndoKAKAO merupakan salah satu wujud nyata komitmen bersama Prancis dan Indonesia untuk memperkuat kerja sama di bidang penelitian, inovasi, dan pembangunan berkelanjutan. Kami mengapresiasi kemajuan yang telah dicapai sejak pertemuan Komite Pengarah sebelumnya dan berharap berbagai kegiatan yang sedang berjalan dapat semakin memperkuat pertukaran pengetahuan serta memberikan manfaat jangka panjang bagi pengembangan sektor kakao Indonesia,” ujar Vice Counsellor of Cooperation and Culture Kedutaan Besar Prancis di Indonesia Vincent Degoul.

Selama fase pertama, para ahli dari Indonesia dan Prancis telah melaksanakan 15 misi teknis dan menyelenggarakan berbagai pelatihan terkait kualitas kakao, fermentasi, dan agroforestri. Proyek ini juga berhasil membangun dua fasilitas fermentasi percontohan di Pendolo, Sulawesi Tengah, dan Jember, Jawa Timur, yang berkontribusi pada peningkatan praktik pascapanen dan mutu kakao. Selain itu, IndoKAKAO telah mengembangkan versi Bahasa Indonesia dari alat agroforestri Shade Tree Advice serta mengidentifikasi praktik-praktik baik di tingkat lokal, termasuk model fermentasi kolektif yang diterapkan Koperasi Kerta Semaya Samaniya di Bali untuk meningkatkan kualitas dan nilai jual kakao petani.

Komite Pengarah menilai proyek IndoKAKAO telah berhasil bertransformasi dari tahap konseptual menuju implementasi yang operasional melalui kolaborasi kelembagaan yang kuat dan pelaksanaan teknis yang efektif. Untuk fase kedua, Komite Pengarah merekomendasikan perluasan berbagai keberhasilan lokal menjadi transformasi sektoral yang lebih sistematis. Ke depan, fokus program akan bergeser dari pelaporan keluaran (outputs) menuju pelembagaan hasil (outcomes) melalui penerjemahan bukti lapangan dan model-model percontohan menjadi rekomendasi kebijakan yang dapat ditindaklanjuti, standar teknis nasional, serta materi penyuluhan yang terintegrasi dalam strategi revitalisasi kakao nasional Indonesia.

Selanjutnya, IndoKAKAO akan memprioritaskan transformasi hasil penelitian menjadi solusi yang dapat diterapkan secara langsung oleh komunitas produsen kakao. Fokus kegiatan meliputi peningkatan praktik fermentasi dan mutu kakao, perluasan pendekatan agroforestri, penguatan kapasitas lokal, serta dukungan terhadap penyusunan peta jalan kakao berkelanjutan di Sulawesi Tengah. Melalui pertanian berkelanjutan, pertukaran pengetahuan, dan kolaborasi ilmiah, proyek ini mencerminkan komitmen bersama Indonesia dan Prancis untuk membangun masa depan sektor kakao yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.

“Nilai utama dari IndoKAKAO tidak hanya terletak pada kegiatan yang dilaksanakan di lapangan, tetapi juga pada kemampuan proyek ini dalam menghasilkan pembelajaran yang dapat dimanfaatkan secara lebih luas. Berbagai pengalaman dan praktik baik yang dihasilkan perlu menjadi rujukan bersama untuk memperkuat pengambilan keputusan, mempercepat adopsi inovasi, dan mendukung pembangunan sektor kakao yang lebih tangguh dan berkelanjutan di masa mendatang,” pungkas Deputi Teguh.