Choose Language
id us

Kedaulatan Pangan : Strategi Menuju Kemandirian Pangan

April 1st, 2015 3:57 pm


COVER.jpg

 

Hasil studi  ketahanan pangan oleh TAK Bappenas ini difokuskan pada  6 (enam) area konsentrasi sebagai berikut.

    1. Dari aspek intensifikasi maka pelaksanaan kebijakan  perlu tetap  dilakukan untuk menekan 8 (delapan) kelemahan pertanian Indonesia yang terdiri dari:  (1). Pengelolaan/pasca panen yang rendah; (2). lnfrastruktur  yang  kurang; (3). Pemilikan lahan yang  sempit; (4). Pemilikan/akses terhadap modal tidak mencukupi;  (5). Tingkat pendidikan  rendah;  (6). Penguasaan teknologi kurang; (7).  Tingkat keterampilan  yang rendah; serta (8).  Sikap mental yang tidak menunjang produktivitas.
    2. Agar pelaksanaan kebijakan tersebut  di atas (no.  1) dapat berjalan secara efektif  dan efisien maka perlu memperkuat  peran penyuluh pertanian sebagai fasilitator  petani di lapangan baik dari segi kapasitas individu maupun jumlahnya harus di tingkatkan.
    3. Ketahanan air (water security) sangat diperlukan untuk meningkatkan produksi pangan.  Untuk itu, selain program/  kegiatan infrastruktur  sumber daya air (untuk  menambah  kuantitas  air) yaitu membangun  waduk-waduk,  maka diperlukan  program/  kegiatan  pengelolaan sumber daya air yang terpadu.  Hal ini diperlukan  untuk  menjaga kesinambungan pasokan air untuk berbagai  kepentingan karena di  beberapa wilayah  telah terjadi  kompetisi  penggunaan air antara  pertanian,  industri  dan rumah tangga (PAM). Terjadi terutama  pada musim kemarau, dan semakin penting dengan adanya climate change.
    4. Untuk antisipasi pertambahan  penduduk dan memenuhi  swa sembada pangan padi, jagung, kedelai  dll mutlak  diperlukan   perluasan  lahan pertanian  di  Indonesia.   Berdasarkan studi (Sukarman dan Suharta, 2010) maka untuk  melipatkan  produksi  padi diperlukan  perluasan lahan sebesar 7,2 juta  ha. Perluasan lahan selain dapat dilakukan dengan memperluas areal lahan  pertanian  tetapi  dapat juga  dengan strategi optimalisasi  sumber  daya lahan seperti pemanfaatan lahan sub optimal (LSO).
    5. Pemanfaatan lahan potensial  untuk  perluasan areal pertanian  tersebut  di atas harus sesuai dengan peruntukannya:  (1).  Kawasan untuk pertanian lahan basah dan lahan kering (tanaman pangan semusim) harus dimanfaatkan  khusus untuk  tanaman  pangan dan hortikultura,  (2). Komoditas penghasil bio-energi, nonpangan  dan  perkebunan  diarahkan  pada lahan  kering potensial  untuk tanaman  tahunan;  (3).  Pemanfaatan  lahan terlantar   perlu  diiringi  dengan pengembangan varietas yang mempunyai daya adaptasi tinggi pada lahan suboptimal.
    6. Pola konsumsi masyarakat dalam kemandirian pangan juga harus  dikembangkan tidak hanya karbohidrat. Survey BPS, mengenai pola konsumsi protein  per kapita masyarakat tahun 2010-2013  menunjukan angka yang tidak  banyak berubah.  Pada 2013, asupan  protein  terbesar diperoleh dari padi-padian 20,40 gram,  sementara ikan menduduki urutan ke-2 dengan asupan sebesar 7,56  gram, kemudian disusul oleh kacang-kacangan, telur+susu, daging dan dari sayur• sayuran.  Dengan demikian asupan protein  yang berasal dari ikan oleh masyarakat Indonesia menjadi sangat penting.  Untuk itu kebijakan menuju kemandirian  pangan dalam RPJMN juga harus menekankan pada pentingnya peningkatan konsumsi ikan yang berarti juga peningkatan produksi ikan, baik di laut (kemaritiman) maupun di darat.

 

Donwload Dokumen : pdf-icon.png

 

 

2346

Dokumen Terkait

Comments

Tinggalkan Komentar


(Email anda tidak akan dilihat oleh publik)


Captcha Code

Click the image to see another captcha.

Peta Situs | Beranda | FAQs | Kontak Kami

Situs ini dibangun dengan tampilan adaptif yang otomatis menyesuaikan bila anda menggunakan perangkat mobile

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS)
Jalan Taman Suropati No.2 Jakarta 10310,
Telp. 021 3193 6207 Fax 021 3145 374

 
Copyright © 2019 Kementerian PPN / Bappenas
All Rights Reserved