Choose Language
id us

Perkembangan Harga Komoditas di Pasar Internasional (Bulanan)


Perkembangan Harga Komoditas di Pasar Internasional Bulan Juni 2017



Ringkasan:


  • Harga  komoditas  pada  semester  I-2017  terpantau  mengalami  penurunan  sejak  mencapai  puncaknya  pada  pertengahan  Februari  2017.  Ancaman banjir  pasokan,  serta  rendahnya  permintaan  mengintai  harga  komoditas  sepanjang  paruh  pertama  tahun  ini.  Merosotnya  harga  komoditas  energi salah  satu  faktor  penting  yang  tidak  dapat  diprediksi  adalah  kenaikan  produksi  minyak  di  Libya  dan  Nigeria,  yang  dibebaskan  dari  perjanjian pemangkasan  produksi  1,8  juta  barel  per  hari  (bph)  sampai  kuartal  I/2018.  Sementara  itu,  melemahnya  harga  gas  alam  dipicu  oleh  proyeksi berkurangnya permintaan Amerika Serikat sebagai konsumen terbesar di dunia  karena  stabilnya cuaca saat ini, serta melimpahnya cadangan.
  • Dari komoditas pertanian dan perkebunan produksi kakao turun di tengah peningkatan kapasitas produksi industri dalam negeri. Akibatnya, impor biji kakao mengalami kenaikan. Produksi kakao nasional sebanyak 340.000 ton per tahun, belum mencukupi kebutuhan industri sebesar 800.000 ton per  tahun.  Meskipun  harga  turun  peluang  pasar  ekspor  kopi  Indonesia  ke  Arab  Saudi  masih  berpotensi  untuk  ditingkatkan.  Indonesia  merupakan negara  penghasil  kopi  terbesar  ke-4  di  dunia  setelah  Brasil,  Vietnam,  dan  Kolombia  dengan  total  produksi  739.000  ton  atau  8,9%  total  produksi dunia. Harga minyak kelapa sawit (CPO) juga melemah akibat pemulihan suplai, tetapi pelaku usaha masih bisa optimis seiring dengan tumbuhnya konsumsi China yang akan menciptakan kebutuhan CPO baru sebesar 9 juta ton per tahun, artinya akan menjadi pasar potensial dari tahun lalu yang baru  menyerap  3,8  juta  ton  CPO  dari  Indonesia.    Pelemahan  harga  komoditas  juga  terjadi  pada  karet  yang  mencatatkan  rentetan  penurunan terpanjang  sejak  1975.  Pemicunya  pasar  khawatir  terhadap  perlambatan  pertumbuhan  ekonomi  China  dan  tingkat  cadangan  karet  mentah  China yang tinggi. Kabar baik datang bagi petani kedelai tanah air. Pasalnya, harga kedelai lokal saat ini naik dari Rp8.300 per kg menjadi Rp 12.000 per kg pasca  terbitnya  aturan  harga  acuan  pembelian  di  tingkat  petani.  Komoditas  udang/rajungan  memiliki  prosepek  cukup  tinggi,  khususnya  pasar ekspor. Berdasarkan Data BPS, ekspor rajungan dan kepiting pada 2015 mencapai 29.038 ton dengan nilai US$ 321.842. Sementara itu, harga pulp terpantau stagnan, permintaan masih belum tinggi akibat perekonomian dunia yang belum pulih.
  • Komoditas logam, meskipun datanya menunjukkan tren positif, sebenarnya harga tembaga mengalami tekanan. Kenaikan suku bunga AS sebesar 25 basis poin mendorong nilai tukar dollar AS menguat dan menekan harga tembaga. Demikian juga harga seng turun bahkan China terus menurunkan kapasitas produksi sejak Maret 2017 karena nilai penjualan tidak menutup ongkos pengolahan. Banjirnya pasokan secara global turut menghimpit harga  nikel  saat  ini,  terutama  dari  dua  negara  produsen  utama  nikel  yakni  Filipina  dan  Indonesia  setelah  dikeluarkannya  izin  ekspor.  Harga  timah diperkirakan semakin melemah pada paruh kedua 2017 akibat kendala surplus suplai. China sebagai produsen, pengolah, dan konsumen terbesar di dunia  bakal  memacu  suplai  dan  ekspor  bijih  timah  dari  Myanmar  ke  China  merosot  51%  (yoy)  pada  April  2017.  Demikian  pula  harga  bijih  besi melesu seiring dengan proyeksi bertumbuhnya pasokan yang lebih cepat dibandingkan volume permintaan*.

Download Selengkapnya

Perkembangan Harga Komoditas di Pasar Internasional Bulan Mei 2017



Ringkasan:


  • Secara umum harga terbentuk ketika kurva permintaan dan penawaran bertemu pada satu titik. Harga yang terjadi merupakan titik keseimbangan. Pergeseran kurva permintaan atau penawaran secara simultan akan mempengaruhi tingkat harga keseimbangan (Mankiew, 2003). Harga yang terbentuk di pasar fisik dan berjangka merupakan perpaduan antara permintaan dan penawaran masing- masing pasar.
  • Harga yang terjadi dipasar berjangka merefleksikan konsensus antara sejumlah besar pembeli dan penjual yang memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan penjualan/pembelian dipasar. Harga tersebut tidak hanya merefleksikan keadaan pasokan dan permintaan yang sebenarnya dari komoditi yang bersangkutan, namun juga perkiraan pasokan/permintaan untuk masa yang akan datang. Setiap pelaku pasar harus selalu siap dengan informasi yang akurat mengenai harga dipasar fisik. Fakta yang menunjukkan selalu bergejolaknya harga-harga untuk masa mendatang secara sederhana merefleksikan berubahnya konsensus di antara peserta pasar karena diterimanya informasi terkini mengenai situasi pasokan/permintaan komoditi yang diperdagangkan.
  • Harga di pasar berjangka akan selalu berubah menyesuaikan diri dengan perubahan informasi pasar yang terjadi. Hal ini penting bagi perencanaan produksi, prosesing, dan pemasaran komoditi, sehingga membantu mengurangi biaya-biaya operasional yang pada akhirnya memberikan manfaat bagi ekonomi. Perdagangan internasional memiliki peran yang sangat vital bagi sebuah negara, bahkan telah menjadi jantung bagi negara-negara besar karena akan mendatangkan penghasilan atau devisa bagi negara tersebut. Sebagian besar negara-negara maju menggantungkan hidup negaranya kepada perdagangan internasional yang diwakili oleh korporasi-korporasi raksasa miliknya.
  • Perdagangan internasional penting, karena pasar internasional tidak terbatas, dengan penduduk dunia yang hampir 7 milyar jiwa akan menjadi calon pembeli potensial. Rata-rata penghasilan negara-negara maju yang lebih besar dibandingkan rupiah menjadi daya tarik tersendiri. Selain itu tentunya adanya gap komoditas antar negara, dimana Indonesia memiliki komoditas yang tidak dimiliki oleh negara lain yang menjadi keunggulan komparatif. Indonesia belum terlambat untuk mulai menjadi pemain utama dalam perdagangan internasional. Yang perlu dibangun adalah industri pengolahan dan industri hilir, sehingga tidak lagi hanya menjual kekayaan alam mentah tanpa diolah*.

Download Selengkapnya

Perkembangan Harga Komoditas di Pasar Internasional Bulan April 2017



Ringkasan:


  • Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia selama tiga tahun ke depan masih cukup menjanjikan yang didukung oleh faktor fundamental perekonomian yang kuat. Dalam laporan East Asia-Pacific Outlook April 2017, Bank Dunia memaparkan bahwa pertumbuhan ekonomi hingga 2019 akan terus bergerak naik. Pada 2017, produk domestik bruto (PDB) Indonesia diprediksi tumbuh 5,2% atau naik dari tahun lalu sebesar 5,0%. Adapun untuk 2018, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi mencapai 5,3%. Proyeksi tersebut terbilang lebih pesimistis dibanding proyeksi Pemerintah Indonesia yakni 5,6%. Sementara itu untuk 2019, PDB Tanah Air diprediksi kembali naik sebesar 5,4%.
  • Bank Dunia menambahkan, prospek ekonomi Indonesia yang bergerak positif antara lain didukung oleh sentimen pemulihan ekonomi global, naiknya harga komoditas, meningkatnya aktivitas ekspor dan kencangnya arus investasi ke dalam negeri. World Bank mempertahankan proyeksi peningkatan yang kuat terhadap harga komoditas industri, terutama sektor energi dan logam, pada 2017 akibat pengetatan pasokan serta pertumbuhan permintaan. Dalam laporan Commodity Markets Outlook April 2017 yang dirilis Rabu (26/4/2017), World Bank mempertahankan prediksi rerata harga minyak mentah pada tahun ini melonjak 28,5% (yoy) menjadi US$55 per barel dari 2016 senilai US$42,8 per barel. Adapun pada 2018, harga meneruskan peningkatan menjadi US$60 per barel. Proyeksi tersebut mengasumsikan adanya realisasi pembatasan produksi minyak dari Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan negara produsen minyak lainnya sepanjang semester I/2017.
  • Harga komoditas energi yang mencakup minyak mentah, gas alam, dan batu bara diprediksi memanas 26% yoy pada 2017 dan 8% yoy pada 2018. Harga gas alam bakal tumbuh 15% pada tahun ini, sedangkan batu bara meningkat 6%. World Bank juga menaikkan proyeksi pertumbuhan harga logam menjadi 16% yoy pada 2017, dibandingkan laporan medio Januari 2017 yang menyebutkan kenaikan 11% yoy. Hal ini dipicu oleh langkah pengetatan pasokan, serta permintaan yang kuat dari China dan sejumlah negara maju lainnya. Selain itu, adanya kendala pasokan dari sejumlah tambang di Indonesia, Cile, dan Peru. Sementara itu, harga komoditas pertanian secara keseluruhan diperkirakan meningkat 4% yoy pada 2017. Namun, harga tanaman kebun untuk minuman seperti kopi, kakao, dan teh diprediksi menurun lebih dari 6%*.

Download Selengkapnya

Perkembangan Harga Komoditas di Pasar Internasional Bulan Maret 2017



Ringkasan:


  • Membaiknya harga komoditas di awal tahun 2017 membawa harapan pada membaiknya kinerja ekspor Indonesia yang pada gilirannya mampu meningkatkan pendapatan negara dan masyarakat serta mendorong roda perekonomian semakin berputar sehingga pertumbuhan ekonomi semakin membaik. Sepanjang tahun 2016 harga-harga komoditas andalan ekspor Indonesia ada kenaikan walaupun tidak tinggi tetapi menunjukkan pada arah perbaikan yang diharapkan berlanjut di tahun 2017.
  • Pada 2016, komoditas mengalami reli di awal tahun karena munculnya tanda-tanda upaya menyeimbangkan pasar. Namun, reli terhenti pada paruh kedua setelah referendum Britania Raya menghasilkan keputusan British Exit (Brexit), sehingga meningkatkan kekhawatiran prospek pertumbuhan global. Namun demikian, permintaan komoditas global terbantu oleh peningkatan konsumsi Amerika Serikat dan China sebagai konsumen komoditas terbesar di dunia. Di sisi lain, kesepakatan OPEC untuk memangkas produksi minyak mentah menjadi salah satu katalis positif bagi harga komoditas. Pasalnya, minyak merupakan komoditas strategis yang berpengaruh pada setiap lini perdagangan. Sementara itu, kemenangan Donald Trump sebagai Presiden AS bakal meningkatkan kebijakan fiskal dan pembangunan infrastruktur, sehingga menaikkan proyeksi penyerapan komoditas logam. Tembaga misalnya, akan mengalami peningkatan 7% pada 2017 menjadi US$5.575 per ton bahkan ada peluang harga dapat mencapai US$6.000 per ton.
  • Meskipun ada tren perbaikan, harga komoditas masih berpeluang mengalami penurunan ataupun flat seiring dengan berakhirnya era supercycle (era harga tinggi) yang akan mempengaruhi ekspor dan investasi Indonesia. Krisis ekonomi di kawasan Eropa beberapa tahun terakhir yang kondisinya masih belum pulih atau masih dalam posisi mild recovery dikhawatirkan belum mampu meningkatkan permintaan dunia, sehingga akan menyulitkan ekspor Indonesia tumbuh lebih cepat. Data persediaan minyak AS yang naik di tengah upaya OPEC dan negara produsen membatasi suplai menjadi sentimen negatif menurunnya harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang disinyalir akan turut berimbas negatif pada pergerakan harga komoditas lainnya.

Download Selengkapnya

Perkembangan Harga Komoditas di Pasar Internasional Bulan Februari 2017



Ringkasan:


Indonesia merupakan salah satu negara produsen sekaligus eksportir komoditas terbesar di dunia. Sumber daya alam yang dimiliki sangat luar biasa, tidak heran jika Indonesia disebut-sebut sebagai “potongan surga yang jatuh ke bumi”. Hal tersebut tidak lain dan tidak bukan karena apapun bisa didapat di Indonesia. Dari komoditas energi, Indonesia merupakan produsen minyak mentah, meskipun telah mengalami tren penurunan yang berkelanjutan karena kurangnya eksplorasi dan investasi di sektor ini. Untuk komoditas batu bara dan gas alam, Indonesia masih menempati posisi sepuluh besar produsen dunia dengan masing-masing memproduksi 281,7 juta ton dan 76,25 milyar meter kubik per tahun. Sementara untuk komoditas tambang dan mineral Indonesia juga merupakan negara produsen sekaligus eksportir timah dunia, dengan rata-rata produksi mencapai 90.000 ton per tahun. Indonesia juga ada dibarisan produsen tembaga dan nikel. Berdasarkan data Bea Cukai China, pada 2013, Indonesia mengekspor bijih nikel (nickel ore) sebesar 41,1 juta ton. Jumlah tersebut setara dengan 450.000 ton nikel murni apabila diolah oleh smelter di dalam negeri.

Dari sektor perkebunan, Indonesia menempati posisi pertama penghasil minyak sawit (CPO) dunia dengan kapasitas produksi 31,1 ton per tahun, disusul kopi yang di urutan keempat dunia dengan kapasitas produksi 660 ribu ton per tahun, sementra produksi kakao ada di posisi ketiga dunia dengan produksi 777,500 ton per tahun atau 17% pangsa produksi dunia. Indonesia juga berada di urutan ke kedua setelah Thailand untuk komoditas karet dengan produksi 2.982.000 ton atau 27,06% terhadap produksi karet dunia, adapun bubur kertas Indonesia menduduki peringkat keenam daftar produsen kertas dunia dengan total produksi 14 juta ton per tahun.

Dari komoditi pertanian, ada kedelai dan udang yang sudah memiliki tempat di pasar internasional. Komoditas kedelai merupakan komoditas strategis yang unik tetapi kontradiktif dalam sistem usaha tani di Indonesia, karena luas tanam kedelai kurang dari 5% dari seluruh luas area tanaman pangan di Indonesia. Sifat multiguna yang melekat pada kedelai merupakan penyebab tingginya permintaan kedelai di Indonesia yang harus dipenuhi dari kedelai impor. Sementara untuk komoditas udang, China saat ini menempati peringkat pertama produsen udang dunia dengan kapasitas produksi kurang lebih 700.000 ton per tahun, mengalahkan Indonesia yang pernah mengajari China dan Thailand cara budidaya udang. Kekayaan alam Indonesia yang tergambar di atas, seharusnya bisa menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi dan mendongkrak tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia*.


Download Selengkapnya

Perkembangan Harga Komoditas di Pasar Internasional Bulan Januari 2017



Ringkasan:


Harga sejumlah komoditas dunia perlahan-lahan mulai membaik, meski masih jauh di bawah masa keemasannya. Tren kenaikan harga terutama terjadi pada komoditas energi seperti minyak mentah (crude oil). Departemen Energi AS atau U.S. Energy Information Administration (EIA), memprediksi harga minyak mengalami tren menanjak sampai dengan 2018. Peningkatan harga terutama didukung oleh peningkatan konsumsi dari 2016 sebesar 95,57 juta barel per hari (bph) menuju 97,2 juta bph pada 2017 dan 98,71 juta bph pada 2018. Adapun tingkat produksi pada 2016 sejumlah 96,45 juta bph mengembang tipis ke 97,53 juta bph dan 98,86 juta bph pada 2017 serta 2018. Harga minyak mentah mulai memanas sejak pertengahan tahun lalu yang didukung oleh rencana pemangkasan produksi OPEC pada awal 2017. Sementara harga batu bara dan gas alam mengalmi perlambatan yang dipicu oleh faktor fundamental, yakni persediaan yang melimpah sementara permintaan menurun serta berakhirnya musim dingin di sebagian wilayah membuat kenaikan harga gas alam terhenti.

Dalam laporan bertajuk Commodity Markets Outlook Januari 2017, World Bank  memperkirakan harga komoditas pertanian secara keseluruhan meningkat tipis kurang dari 1% (yoy) pada 2017. Kenaikan kecil terjadi pada minyak nabati, minyak biji-bijian, dan bahan baku, sedangkan harga biji-bijian turun hampir 3% (yoy) karena estimasi meningkatnya pasokan. Lonjakan harga juga terjadi pada komoditas mineral-logam, seperti aluminium, tembaga, dan seng, sementara timah, nikel, dan bijih besi sedikit terkoreksi. Pemulihan harga tersebut diyakini akan terus berlanjut dan mampu mendongkrak nilai ekspor Indonesia. Namun, di tengah tren kenaikan harga, pemerintah tidak harus mengendurkan program hilirisasi agar dapat memberikan nilai tambah pada komoditas primer serta mendorong transformasi industri.

Kenaikan harga komoditas primer akan membawa berkah bagi Indonesia karena memang selama ini ekspor Indonesia masih berupa komoditas primer. Neraca perdagangan akan membaik dengan kenaikan harga komoditas itu. Namun demikian, kenaikan harga komoditas primer tersebut akan menjadi tantangan tersendiri bagi program hilirisasi yang sudah dicanangkan pemerintah.

Pemerintah dan pengusaha berbasis komoditas harus komit bahwa hilirisasi merupakan strategi paling jitu untuk menciptakan perekonomian nasional yang berbasis sustainable. Margin atau keuntungan dari hilirisasi jauh lebih besar ketimbang mengekspor komoditas dalam bentuk mentah. Hilirisasi bukan saja menciptakan nilai tambah dari sisi produk, namun juga bisa menciptakan investasi baru dan menyerap banyak tenaga kerja di dalam negeri. Jadi meskipun harga komoditas sepertinya akan berlanjut, konsistensi pemerintah akan hilirisasi harus diutamakan*.


Download Selengkapnya

Perkembangan Harga Komoditas di Pasar Internasional Bulan Desember 2016



Ringkasan:


  • Komoditas Energi: Minyak Mentah, Batu Bara dan Gas Alam
  • Komoditas Pangan dan Pertanian : Kakao, Kopi, Karet, Udang, Minyak Kelapa Sawit, Kedelai, dan Bubur Kertas
  • Komoditas Logam dan Mineral: Tembaga, Nikel, Timah, Seng dan Bijih Besi

Download Selengkapnya

sebelum 123 sesudah
112190

Artikel Terkait

Komentar

Tinggalkan Komentar


(Email anda tidak akan dilihat oleh publik)


Captcha Code

Click the image to see another captcha.

Peta Situs | Beranda | FAQs | Kontak Kami

Situs ini dibangun dengan tampilan adaptif yang otomatis menyesuaikan bila anda menggunakan perangkat mobile

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)
Jalan Taman Suropati No.2 Jakarta 10310,
Telp. 021 3193 6207 Fax 021 3145 374

 
Copyright © 2021 Kementerian PPN / Bappenas
All Rights Reserved