Choose Language
id us

Perkembangan Harga Komoditas di Pasar Internasional (Bulanan)


Perkembangan Harga Komoditas di Pasar Internasional Bulan Mei 2019



Ringkasan:


  • Kekhawatiran pasar terkait dengan eskalasi perang dagang AS dan China tampaknya akan terjadi. Meski negosiasi perdagangan masih berlangsung, AS telah memberlakukan kembali kenaikan tarif impor China sebesar 25% dari semula 10% untuk barang- barang China senilai US$200 miliar. Tarif baru dikenakan pada lebih dari 5.700 kategori produk yang berbeda asal China, mulai dari sayur-sayuran olahan hingga lampu Natal dan kursi tinggi untuk bayi. Hingga kini, China masih meramu langkah untuk membalas kebijakan kenaikan tarif oleh AS. Pembicaraan perdagangan antara Amerika Serikat dan China pun akan sangat menentukan karena keberlanjutan tarif baru AS akan bergantung pada hasil negosiasi tersebut. China memiliki waktu sebulan untuk mengamankan kesepakatan perdagangan atau menghadapi tarif pada semua ekspornya. Trump juga meningkatkan ketegangan perdagangan secara global dengan ‘mengancam’ untuk mengenakan tarif pada semua barang dari Meksiko.
  • Eskalasi perang dagang akan berdampak pada komoditas berjenis hard commodity dan komoditas agrikultur seluruh dunia. Harga komoditas mencatat penurunan mingguan terpanjang tahun ini. Pergerakan harga komoditas berjangka telah tertekan oleh hubungan dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia yang memburuk. Harga minyak mentah mengalami tekanan bukan hanya rilis data EIA tentang naiknya persediaan cadangan minyak AS, ketidakpastian ekonomi global dan sentimen geopolitik antara AS dengan Iran, dan Meksiko, membuat pasar ragu akan optimisme permintaan minyak. Bank Dunia mencatat, pergerakan harga komoditas logam industri pada bulan Mei 2019 terpantau kompak mengalami pelemahan, hanya harga bijih besi yang bergerak positif. Melemahnya prekonomian China membawa dampak pada sisi permintaan terhadap bahan baku logam. Diketahui China bukan hanya produsen komoditas logam tetapi juga sebagai konsumen terbesar dunia. Dari komoditas agrikultur, bergugurnya harga komoditas biji-bijian juga terpapar oleh kekhawatiran melemahnya permintaan ditengah melimpahnya suplai dan dampak penyebaran virus demam babi Afrika.
  • Sementara itu, Indonesia memiliki potensi kebanjiran impor dari China terutama besi baja, barang elektronik, dan garmen ketika tarif tersebut dinaikkan. Untuk komoditas batu bara, timah, dan CPO dari Indonesia, eskalasi perang dagang akan berdampak pada penurunan permintaan. Hal tersebut dikarenakan efek eskalasi perang dagang juga akan merembet ke negara berkembang, termasuk Indonesia, karena poros bisnis masih berasal dari China dan AS sehingga akan mengganggu ekspor dan impor negara berkembang*

Download Selengkapnya

Perkembangan Harga Komoditas di Pasar Internasional Bulan Februari 2019



Ringkasan:


  • Pertumbuhan ekonomi China atau Tiongkok dalam dua tiga dekade terakhir merupakan sebuah keajaiban besar dalam sejarah perekonomian modern dan dikenal sebagai negara yang memberikan pengaruh paling besar bagi perekonomian dunia. Tidak hanya tingkat pertumbuhannya, tetapi juga skalanya yang mencengangkan, dengan meningkatkan taraf hidup lebih dari 1,3 miliar penduduknya, atau sekitar 20% dari populasi dunia. Melihat besarnya populasi China, tak dapat diragukan lagi China telah menjadi kekuatan ekonomi utama dunia setelah Amerika Serikat. Negara arahan Xi Jinping ini mampu untuk menguasai berbagai lini industri mulai dari komunikasi, komputer, otomotif, hingga barang elektronik.
  • Ketika kinerja ekonomi Tiongkok mengalami perlambatan dan mencapai titik terburuk yang hanya mencatatkan pertumbuhan ekonomi 6,6 persen pada 2018 atau melambat dibanding dengan 2017 yang mencapai 6,90 persen, bahkan menargetkan untuk tumbuh dalam kisaran 6%-6,5% di 2019. Kondisi ini turut memicu kekhawatiran tentang risiko pertumbuhan ekonomi dunia. Pasalnya, sumbangsih ekonomi Tiongkok juga mencapai sepertiga dari pertumbuhan ekonomi dunia. Maka ketika Tiongkok menghadapi masalah, seluruh perdagangan dunia akan terpengaruh, termasuk Indonesia. Negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia ini merasakan efek dari prospek perdagangan yang semakin gelap dan upaya pemerintah untuk mengendalikan pinjaman berisiko setelah kenaikan tingkat utang yang pesat.
  • Narasi tentang perlambatan ekonomi China kemungkinan memiliki dampak pada permintaan komoditas dan sejumlah barang konsumen. Sebab, aktivitas ekonomi yang melambat akan menyusutkan permintaan impor. Artinya akan berdampak pada kinerja ekspor Indonesia, kalau ekspor memburuk, andil dari ekspor pada pertumbuhan juga jadi berkurang, sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia juga jadi cukup berdampak. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2018 menunjukkan, ekspor non-migas ke Tiongkok tercatat $24,39 miliar AS atau setara 15 persen dari total pangsa pasar ekspor Indonesia. Namun demikian, ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh mengingat kontribusi pertumbuhan ekonomi terbesar berasal dari konsumsi rumah tangga. Dan didukung konsumsi pemerintah yang diarahkan pada belanja operasional dan penguatan belanja produktif. Sementara untuk mendorong penguatan ekspor perlu dilakukan diversifikasi produk ekspor, dan ekspansi negara tujuan ekspor*.

Download Selengkapnya

Perkembangan Harga Komoditas di Pasar Internasional Bulan Januari 2019



Ringkasan:


  • Perdagangan komoditas masih menghadapi tantangan berat setelah mengalami tahun penuh tekanan sepanjang 2018, mulai dari penurunan parah harga minyak mentah dan logam dasar, serta bahan mentah lainnya yang dipicu antara lain oleh kekhawatiran perlambatan pertumbuhan ekonomi dan ketidakpastian perang dagang AS-China. Penurunan harga minyak dunia menjadi acuan harga komoditas lainnya hingga harganya ikut melambat. Selain itu, perang dagang yang ikut mempengaruhi pertumbuhan ekonomian AS dan Tiongkok, turut menyebabkan permintaan batubara Tiongkok menjadi tak setinggi 2018. Tantangan lain juga ada pada komoditas perkebunan andalan Indonesia seperti karet dan minyak sawit mentah (CPO) yang hingga saat ini pun masih dibayangi pelemahan harga. Sementara India diperkirakan masih akan mengenakan tarif yang tinggi terhadap impor CPO demi melindungi produksi minyak nabati negaranya yang saat ini terus dikembangkan.
  • Kekhawatiran pasar terkait dengan pelemahan data Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur China yang tercatat turun. Padahal negara tersebut merupakan importir logam terbesar di dunia sehingga memberikan keresahan akan berkurangnya permintaan komoditas logam. Karena itu, harga logam diperkirakan berada di bawah tekanan pada awal kuartal I-2019. Dampak perang dagang ini diprediksi masih terus berlanjut dan membayangi kinerja sektor perdagangan dunia dan dalam negeri pada 2019. Meski begitu, efek negatif perang dagang diharapkan bisa sedikit diredam, salah satunya dengan mendiversifikasi negara tujuan ekspor serta mulai melakukan perpindahan produk ekspor dari semula berbasis komoditas mentah ke komoditas berbasis manufaktur.
  • Menurut ekonom Indef (Bhima Yudhistira) sektor perdagangan masih memiliki celah untuk mencatat pertumbuhan, meski tak sedikit kendala yang dihadapi. Untuk meningkatkan ekspor harus mulai ada shifting ekspor dari “comodity base ke manufacturing base,". Selain itu, untuk pasar utama tujuan dagang seperti Eropa, India dan Tiongkok, tidak bisa lagi diandalkan sebagai satu- satunya tumpuan ekspor. Karena seperti diketahui, panas-dingin hubungan dagang Negeri Tirai Bambu dengan Negeri Paman Sam telah menyebabkan ekonomi negara tersebut melambat. Dengan berbagai hambatan ekspor baik dari eksternal maupun internal Indonesia, terlebih lagi jika impor masih tetap tinggi, maka pada 2019 Indonesia diperkirakan tetap masih akan mencetak defisit neraca perdagangan, meski nilai defisitnya mengecil dibandingkan dengan defisit 2018 (katadata.co.id)*.

Download Selengkapnya

Perkembangan Harga Komoditas di Pasar Internasional Bulan Desember 2018



Ringkasan:


  • Kinerja harga komoditas mengalami tahun yang buruk di 2018. Sektor energi paling aktif diperankan oleh minyak mentah dengan penurunannya yang dramatis menjelang akhir tahun di tengah kekhawatiran kelebihan pasokan. Harga batubara lebih mampu bertahan menghadapi tekanan jika dibandingkan dengan harga minyak. Secara fundamental dalam jangka panjang batubara masih berpotensi tumbuh. Permintaan untuk batubara sangat besar seiring dengan pertumbuhan ekonomi Asia. Permintaan paling besar berasal dari China, India, Jepang, dan Korea. Sementara itu, gas alam berada di antara komoditas yang berkinerja positif dan masih membukukan kenaikan tahunan bahkan setelah komoditas tersebut mengalami pukulan besar bulan ini.
  • Tahun ini juga menjadi badai besar dan membuat harga komoditas perkebunan dan petanian seperti kopi, kelapa sawit, kedelai tercatat sebagai komoditas dengan kinerja kurang meyakinkan. Harga kakao yang naik mencapai 49% karena meningkatnya kekhawatiran terhadap defisit cadangan kakao di musim ini. Sementara harga kedelai terperosok 9,50 poin atau 1,11% menjadi US$845,50 sen per bushel dan mencatatkan penurunan harga hingga 11,16% secara year-to-date (ytd). Saat ini, petani kedelai di AS tengah menghadapi risiko perpanjangan perang dagang antara dua kekuatan ekonomi dunia. Penurunan pada komoditas kelapa sawit dipicu oleh kelebihan pasokan, dan isu lingkungan, semenara harga kopi meskipun melambat, masih direspon oleh penyerapan dalam negeri yang relatif besar. Harga logam industri mencatat penurunan dari tahun 2017 ke 2018. Perang dagang dan pelambatan ekonomi China tahun ini turut menyeret harga komoditas ini. Karena hampir setengah logam industri dunia dikonsumsi China.
  • Komoditas akan memasuki bulan Januari dengan terbebani oleh kekhawatiran pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan akan melambat. Investor akan lebih menitikberatkan fundamental untuk perdagangan komoditas pada 2019 setelah mengalami kondisi perdagangan penuh drama tahun ini. Banyaknya pengaruh dari politik Amerika Serikat, China, Rusia, dan Arab Saudi membuat harga komoditas mengalami pelemahan. Tahun 2019, beberapa komoditas global diproyeksi akan mengalami kenaikan harga seperti minyak mentah yang ditopang oleh adanya kesepakatan OPEC+ memotong produksi 1,2 juta barel/hari, minyak sawit terdorong kebijakan Indonesia dengan B20, komoditas karet akan terkerek oleh kesepakatan ITRC untuk memperbaiki harga*.

Download Selengkapnya

Perkembangan Harga Komoditas di Pasar Internasional Bulan November 2018



Ringkasan:


  • Pertumbuhan ekonomi China di kuartal tiga 2018 mengalami perlambatan menjadi 6,5% dari 6,7% di kuartal sebelumnya sebagai dampak dari perang dagang dan berkurangnya aktivitas manufaktur hingga investasi infrastruktur serta pengeluaran konsumen akibat kebijakan pemerintah yang ingin mengurangi pinjaman berisiko. Angka itu merupakan pertumbuhan ekonomi China kuartalan paling rendah sejak krisis keuangan global pada awal 2009. Meskipun memberikan dampak yang tidak signifikan terhadap ekonomi nasional, tetapi tetap patut untuk diwaspadai. Sebab, jika dibandingkan Amerika Serikat (AS), masalah ekonomi di Cina bakal berimbas lebih besar terhadap perekonomian Indonesia.
  • Hasil kajian Bank Indonesia menunjukkan gejolak perekonomian AS hanya berpengaruh 0,3 persen terhadap Indonesia. Tetapi jika gejolak terjadi pada perekonomian Cina, maka pengaruhnya terhadap Indonesia sebesar 0,8 persen. Begitu juga pengaruhnya terhadap Indeks Nilai Tukar Efektif Riil (real exchange rate/RER), dari AS hanya berpengaruh 0,5 persen sedangkan Cina hingga 1,3 persen. Setidaknya dampak pelemahan ekonomi Cina berpengaruh terhadap tiga bagian penting perekonomian Indonesia; (1) perdagangan; (2) sektor keuangan; (3) harga komoditas.
  • Di bidang perdagangan, negeri Tirai Bambu adalah salah satu mitra dagang utama Indonesia, 20 persen produk ekspor Indonesia diserap oleh pasar Cina. Disusul oleh Jepang, AS, Singapura, India, Korea Selatan, dan Malaysia. Hanya 7,2 persen berupa barang konsumsi dan 1,5 persen barang modal. Mengacu pada kondisi ekspor Indonesia yang mayoritas masih berupa komoditas bahan mentah, peluang untuk meningkatkan ekspor ke Cina pun mengecil. Di sektor keuangan Indonesia meskipun tidak signifikan. Investasi langsung (Foreign Direct Investment/FDI) asal Cina ke Indonesia tetap berpengaruh terhadap pasar keuangan, khususnya untuk membiayai defisit transaksi berjalan (current account defisit/CAD).
  • Selain imbas perubahan kebijakan ekonomi Cina—yang kemudian berdampak pada permintaan—besarnya porsi ekspor komoditas Indonesia ke negara itu turut mempengaruhi volume dan harganya. Pemerintah perlu mewaspadai dan mengelola sejumlah sentimen global karena dapat mengganggu perekonomian domestik. Bentuknya bisa berupa kepastian kebijakan, dan menjaga fundamental ekonomi tetap kuat (katadata)*.

Download Selengkapnya

Perkembangan Harga Komoditas di Pasar Internasional Bulan Oktober 2018



Ringkasan:


  • Pergerakan harga komoditas di bulan Oktober terpantau sangat variatif. Dari komoditas energi, harga minyak mengalami peningkatan setelah AS berencan menjatuhkan sanksi terhadap Iran yang mendorong pelaku pasar semakin khawatir pada terganggunya pasokan global, mengingat Iran negara pengeskpor minyak yang mencapai 1,5 juta barel/hari. Faktor lain yang mendorong harga minyak naik adalah badai Micheal di AS yang mengakibatkan sekiatar 40% produksi minyak di Teluk Meksiko di tutup yang berdampak pada penurunan persediaan. Sentimen lain adalah ketegangan geopolitik seputar hilangnya jurnalis asal Arab Jamal Khashoggi ikut memicu kekhawatiran akan suplai minyak. Sementara itu, harga komoditas batubara mengalami tekanan yang dipicu oleh sentimen negatif dari proyeksi penurunan pertumbuhan ekonomi global oleh IMF 3,7% dari sebelumnya 3,9% sebagai imbas perang dagang antara AS dan China. Selain itu cadangan yang meningkat, serta melambatnya sektor manufaktur China ikut mendorong harga komoditas ini melemah. Salah satu komoditas yang tidak terpapar oleh isu perang dagang adalah gas alam yang terpantau terus menunjukkan penguatan yang didukung oleh kebutuhan akan komoditas tersebut yang terus meningkat, dan cadangan yang menurun, bahkan diproyeksi di kuartal IV masih cukup terbuka ketika memasuki musim dingin.
  • Harga komoditas pertanian dan perkebunan terpantau mengalami tekanan seperti harga kakao, kelapa sawit, karet, dan udang. Hanya harga kopi dan kedelai yang bergerak positif, sementara komoditas bubur kertas terpantau stagnan. Kenaikan harga kedelai di picu cuaca dan isu petani kedelai yang beralih tanaman. Sementara meskipun tidak signifikan, harga kopi di pasar global mengalami kenaikan. Melemahnya harga jual minyak sawit mentah (CPO), salah satu pemicunya adalah harga minyak kedelai sebagai substitusi CPO yang harganya melemah menyeret harga CPO mengkeret.
  • Pada komoditas logam dan mineral yang dihuni oleh tembaga, nikel, timah, seng dan bijih besi, terpantau hanya nikel yang menderita pelemahan. Menguatnya harga tembaga ditopang oleh permintaan dari China, dan penguatan dollar AS. Sementara harga seng menguat karena terdorong oleh penyusutan pasokan. Permintaan untuk industri telepon pintar berhasil mengangkat harga timah ditengah kondisi perang dagang. Kebijakan pemerintah untuk mengurangi polusi memberi sentimen positif bagi bijih besi berkualitas tinggi untuk meraih harga lebih tinggi. Berbeda dengan harga nikel yang memimpin pelemahan di antara seluruh logam industri lainnya. Investor masih menantikan perincian selanjutnya terkait perlambatan pertumbuhan ekonomi di China, dan kekhawatiran pasar akan proyek baterai nikel berbiaya rendah di Indonesia*.

Download Selengkapnya

Perkembangan Harga Komoditas di Pasar Internasional Bulan Agustus 2018



Ringkasan:


  • • Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Cina tidak hanya berdampak buruk bagi kedua negara, namun juga perekonomian global termasuk Indonesia dan menimbulkan ketidakpastian yang telah menjatuhkan kepercayaan investor dan menekan rupiah. Sikap proteksionis negara Paman Sam ini juga berdampak buruk secara bilateral negara yang berseteru tetapi berimbas pada negara-negara yang menjadikan AS dan Cina sebagai negara tujuan utama ekspor mereka.
  • Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data yang menunjukkan angka ekspor Indonesia ke Cina dan Amerika Serikat (AS) mengalami pertumbuhan pada periode Januari-Mei 2018. Artinya bahwa Indonesia belum menerima dampak buruk yang signifikan akibat perang dagang antara dua negara raksasa ekonomi dunia tersebut. Selama Mei 2018, ekspor Indonesia ke Cina mencapai 2,093 miliar dolar AS atau tumbuh 15,37 persen dibandingkan April 2018, yakni 1,814 miliar dolar AS. Sedangkan, data ekspor Indonesia ke Amerika Serikat pada Mei 2018 tercatat sebesar 1,574 miliar dolar AS atau naik 10,03 persen dari bulan sebelumnya, yakni 1,430 miliar dolar AS.
  • Sementara berdasar data periode Januari-Mei 2018, ekspor Indonesia ke Cina tercatat senilai 10,245 miliar dolar AS. Jumlah itu naik 31,35 persen dibanding data pada periode yang sama tahun 2017, yaitu 7,799 miliar dolar AS. Adapun data ekspor Indonesia ke Amerika Serikat pada periode Januari-Mei 2018 mencapai 7,43 miliar dolar AS. Angka ekspor itu naik tipis 3,53 persen dibanding data periode Januari-Mei tahun 2017, yaitu sebesar 7,17 miliar dolar AS. Jadi, ini menunjukkan bahwa meskipun ada perang dagang, ekspor Indonesia ke Cina dan AS tetap tumbuh, terutama ke Cina.
  • Selain itu, perlu diantisipasi juga produk-produk Cina yang dialihkan dari pasar AS ke Asia, dan memungkinkan Indonesia menjadi negara tujuan market dan dumping. Artinya Indonesia akan dibanjiri barang impor. Dumping adalah praktik menjual barang di pasar luar negeri dengan harga yang lebih rendah dari harga di pasar dalam negeri, yang dapat memicu defisit neraca perdagangan negara tujuan dagang tersebut. Apabila perang dagang ini berlanjut, dampaknya bisa dalam jangka panjang. Indonesia perlu memperkuat industri lokal, mengurangi permintaan impor bahan baku dengan mengembangkan industri dasar dan mendorong konsumsi rumah tangga serta meningkatkan sektor pariwisata dengan harapan bisa membantu meredam tekanan eksternal (antara, 25/06/18)*

Download Selengkapnya

Perkembangan Harga Komoditas di Pasar Internasional Bulan Juli 2018



Ringkasan:


  • • Memanasnya perang dagang di akhir semester I-2018 menjadi sentimen negatif bagi pergerakan komoditas logam industri. Alhasil, sepanjang enam bulan pertama 2018 ini, harga sebagian besar komoditas logam terkoreksi. Hanya nikel yang berhasil mencatatkan kenaikan harga. Tak heran kalau di antara jajaran logam industri, boleh dibilang nikel menjadi primadona. Kebijakan larangan ekspor nikel di Filipina juga belum berubah, sehingga produksi masih belum kembali normal. Tingginya permintaan yang sudah menggerus 30% stok global tahun ini didorong oleh sektor kendaraan listrik dan industri baja yang masih menggeliat, terutama di China sebagai konsumen nikel terbesar. Alhasil, nikel masih mencatat defisit pasokan sebanyak 19.000 ton pada semester satu, sehingga harga terus unggul.
  • Sementara itu, meski tak seburuk logam industri lainnya, harga timah di sepanjang paruh pertama tahun ini cenderung melemah. Panas dingin konflik dagang antara AS-China, dan sejumlah negara lainnya membuat harga komoditas tertekan. Termasuk logam industri yang satu ini mencatatkan penurunan harga sebesar 1,37% setelah harganya di akhir Juni lalu ada di posisi US$ 19.750 per metrik ton. Harga tertekan karena realisasi perang tarif impor antara AS dan China semakin dekat dan pasokan yang terus meningkat. Data Kementerian Perdagangan RI, total volume ekspor Timah Indonesia sepanjang Mei lalu tercatat mencapai 12.493 ton atau melonjak 204,9% dari volume ekspor pada bulan sebelumnya yaitu 4.098 ton. Memasuki paruh kedua, permintaan timah masih terjaga dengan catatan perekonomian China tidak melambat akibat perang dagang.
  • Tembaga memimpin pelemahan harga terbesar di kelompok logam industri sepanjang semester-I 2018. Meski sempat melonjak naik, harga tembaga melemah seiring dengan perlambatan sektor manufaktur China dan masih tingginya tingkat produksi global. Tembaga mencatatkan penurunan harga paling dalam, setelah melorot 8,75%. Tak beda jauh dari sentimen pada logam industri lainnya, perang dagang Amerika Serikat (AS) masih menjadi isu utama pelemahan harga tembaga. Banyak perusahaan yang memilih untuk tidak melakukan transaksi jual beli tembaga sementara waktu. Pasar juga masih akan melihat data-data ekonomi dari AS maupun China sebelum kembali melakukan jual-beli tembaga*

Download Selengkapnya

Perkembangan Harga Komoditas di Pasar Internasional Bulan Juni 2018



Ringkasan:


  • Perang dagang Amerika Serikat dengan China akan memberikan dampak beragam, baik positif maupun negatif bagi perekonomian dalam negeri Indonesia. Proteksi dagang AS yang dibalas China akan memukul ekspor komoditas unggulan seperti CPO dan karet. Padahal, kedua komoditas primer tersebut berkontribusi sebesar 16 persen dari total ekspor non migas. Posisi Indonesia yang berada di rantai pasok paling bawah sebagai pemasok bahan baku industri menjadi sebab utama kenapa Indonesia rentan terhadap perang dagang.
  • Apabila pemerintah Indonesia ikut melakukan retaliasi alias pembalasan dagang dengan menaikan tarif bea masuk produk asal AS pasti efeknya pada kenaikan harga bahan kebutuhan pokok. Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam bakal mengenakan tarif ke-124 produk asal Indonesia menyusul defisit yang terjadi pada Amerika dalam hubungan dagang dengan Indonesia. Saat ini Indonesia mengimpor kedelai segar dan olahan hingga 6,9 juta ton pada tahun 2017 dan 2,6 juta ton atau 37 persen total impor kedelai dari AS. Jika bahan baku kedelai harganya naik dipastikan harga tempe dan tahu akan naik juga. Pun demikian, gandum sebagai bahan baku mie instan, Indonesia impor dari AS volumenya mencapai 1,1 juta ton per tahun. Intinya yang pertama kali akan terpukul oleh perang dagang adalah kelompok masyarakat miskin.
  • Perang dagang juga akan berisiko pada turunnya kinerja ekspor, defisit perdagangan sangat mungkin berlanjut di semester kedua. Karena ekspor melambat, sementara impornya naik maka permintaan valas semakin tinggi ujungnya rupiah rentan terdepresiasi. Untuk mengantisipasi perang dagang, dari sisi ekspor jika pasar AS dan China terganggu bisa dialihkan ke negara lain yang lebih prospektif. Selain itu, mengenai misi dagang juga perlu ditingkatkan melalui peran duta besar dan atase perdagangan. Sementara dari sisi impor, pemerintah bisa mengendalikan dan mengawasi impor barang dari China. Sebab, China saat ini beresiko mengalihkan kelebihan output produksi ke Indonesia karena pasarnya besar. Sisi positif dari perang dagang bisa dimanfaatkan sebagai momentum untuk membenahi struktur perekonomian dengan mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat permintaan domestik*.

Download Selengkapnya

Perkembangan Harga Komoditas di Pasar Internasional Bulan Mei 2018



Ringkasan:


  • Bank Dunia (World Bank) memprediksi perekonomian Indonesia akan tetap positif. Namun World Bank merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini sebesar 5,2% turun dari prediksi sebelumnya 5,3%. Prediksi tersebut lebih rendah dari target pemerintah yaitu sebesar 5,4%. Tetapi lebih besar dari pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2017 lalu yang hanya 5,1%. Ekspektasi tersebut didasarkan pada ekonomi global yang mulai membaik. Membaiknya ekonomi global juga sangat berpengaruh terhadap mulai membaiknya harga komoditas dunia. Kondisi tersebut sangat positif bagi Indonesia yang masih mengandalkan harga komoditas sebagai penunjang pertumbuhan ekonominya. Harga komoditas masih menjadi keuntungan bagi Indonesia (untuk menopang pertumbuhan ekonomi), selain di dorong oleh investasi dan juga konsumsi rumah tangga.
  • Untuk me-review perkembangan ekonomi terkini, yang pertama dilihat dari perkembangan ekonomi global yang berdampak pada ekspor. Lalu, harga komoditas di Indonesia masih menjadi tumpuan kuat daripada sektor manufaktur. Ketiga, pasar keuangan global, terutama dampak suku bunga AS. Revisi pertumbuhan ekonomi global tentu mendorong permintaan ekspor. Yakni, ekspor ke AS untuk produk manufaktur serta ekspor komoditas ke India dan Tiongkok. Diperkirakan, harga komoditas tahun ini naik 15 persen. Di mana pada 2016 hanya tumbuh 5 persen, pada 2015 0 persen dan 2014 tumbuh negatif.
  • Harga komoditas di pasar dunia menjadi sentimen positif bagi perekonomian nasional. Meski dari sisi konsumsi domestik pertumbuhan tidak terlalu baik, setidaknya ada katalisator yang membuat perekonomian nasional tetap seksi, yakni aktivitas ekspor komoditas. Membaiknya kinerja ekspor dan ekonomi global terus membaik diyakini bisa berpengaruh terhadap pertumbuhan perekonomian. Hal itu tidak terlepas dari hasil reformasi struktural dan pembangunan infrastruktur yang digagas pemerintah.
  • Tren kenaikan harga sejumlah komoditas asal Indonesia yang diekspor, khususnya yang bersumber dari komoditas sumber daya alam seperti karet, kelapa sawit, batu bara dan komoditas tambang lain, memberikan sentimen positif bagi perkembangan ekonomi lokal dengan meningkatnya penghasilan masyarakat, terutama yang tinggal di kawasan penghasil komoditas*.

Download Selengkapnya

sebelum 123 sesudah
2226

Artikel Terkait

Komentar

Tinggalkan Komentar


(Email anda tidak akan dilihat oleh publik)


Captcha Code

Click the image to see another captcha.

Peta Situs | Beranda | FAQs | Kontak Kami

Situs ini dibangun dengan tampilan adaptif yang otomatis menyesuaikan bila anda menggunakan perangkat mobile

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS)
Jalan Taman Suropati No.2 Jakarta 10310,
Telp. 021 3193 6207 Fax 021 3145 374

 
Copyright © 2019 Kementerian PPN / Bappenas
All Rights Reserved