Bappenas Dorong Aksi Nyata Pembangunan Berkelanjutan melalui Social Life Cycle Assessment

Kementerian PPN/Bappenas selaku koordinator pelaksana Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (TPB/SDGs) di Indonesia bertindak sebagai Kementerian Pendukung dalam The 10th International Conference of Social Life Cycle Assessment (S-LCA 2026) di Japfa The Learning Centre (JTLC), Megamendung, Bogor, Rabu (17/6). Forum yang mengusung tema “Unity in Diversity” ini kembali diselenggarakan pertama kali di Asia Pasifik sejak 2010 oleh Life Cycle Indonesia (LCI) bersama JAPFA dan diikuti 430 peserta dari 35 negara dengan 169 kontribusi ilmiah.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menyampaikan bahwa Indonesia tengah mengakselerasi pencapaian visi Indonesia Emas 2045 melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 dengan fokus pada penguatan ketahanan pangan dan energi, percepatan hilirisasi industri, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pengentasan kemiskinan.

“Dalam konteks tersebut, Social Life Cycle Assessment (S-LCA) dapat membantu menerjemahkan komitmen SDGs menjadi dampak nyata yang terukur. Kita perlu mengintegrasikan S-LCA ke dalam seluruh indikator SDGs yang masih tertinggal, sehingga dapat digunakan untuk mengantisipasi risiko sosial, mengarahkan implementasi, serta memaksimalkan dampak dari setiap investasi pembangunan,” urai Menteri Rachmat Pambudy.

Lebih lanjut, Menteri Rachmat Pambudy menyampaikan bahwa Indonesia telah mencapai lebih dari 62 persen target SDGs. Namun, sekitar 24 persen target lainnya, khususnya pada pilar sosial dan tata kelola, masih memerlukan perhatian serius menjelang tahun 2030. Karena itu, penerapan S-LCA perlu diperluas untuk membantu mengantisipasi risiko sosial, memperkuat implementasi program, dan memaksimalkan dampak pembangunan bagi seluruh masyarakat tanpa terkecuali.

Pendekatan ini membantu menempatkan manusia sebagai pusat pengambilan keputusan sekaligus memastikan bahwa proses transformasi pembangunan tidak meninggalkan kelompok rentan dan mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Hal tersebut sejalan dengan prinsip no one left behind sebagai landasan tercapainya TPB/SDGs untuk mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Menteri Rachmat Pambudy menyampaikan supaya forum ini menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi dan mendorong aksi nyata menuju pembangunan yang lebih inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan. “Jadikan konferensi ini sebagai katalisator untuk aksi, bukan sekadar diskusi,” pungkas Menteri Rachmat Pambudy dan dilanjutkan dengan kunjungan ke booth pameran produk komunitas binaan JAPFA serta mitra dan sponsor.