Choose Language
id us

Berita Pembangunan

Walikota Bandung Jelaskan Rencana Pembangunan Teknopolis Gedebage di Bappenas

March 9th, 2015 3:40 pm


(Jakarta, 4/3) Dalam kunjungannya ke Bappenas, Walikota Bandung, Ridwan Kamil, memaparkan rencana pembangunan Teknopolis Gedebage, Bandung, yang berbeda dengan technopark yang dicanangkan oleh pemerintah.

“Saya punya mimpi kota ini menjadi kota futuristik di Indonesia, karena menggunakan urban desain dan arsitekturnya sudah didesain sedemikian rupa. Apabila technopark berskala kecil, maka Teknopolis berskala besar, yang mampu menampung 80 ribu penduduk baru dan menghasilkan 400 ribu lowongan pekerjaan baru dari perusahaan ekonomi global. Dapat dikatakan Teknopolis yang paling siap di Indonesia adalah Bandung, dan bulan depan akan dilakukan groundbreaking satu blok Barcelona sebagai start-up,” ungkap Ridwan Kamil.

Hal yang diharapkan dari kunjungan tersebut adalah pemerintah pusat dapat memberi dukungan baik materil maupun non-materil, serta mengintervensi rencana skala besar tersebut sehingga terjadi akselerasi pertumbuhan ekonomi daerah.

“Beberapa kali Bapak Walikota menyampaikan negara perlu intervensi. Saya ingin katakan bahwa Menteri PPN/Kepala Bappenas memberikan apresiasi dan mendukung rencana tersebut. Dari konsep ingin berbagi itu, sudah kelihatan jelas konsep kota yang ingin dibangun. Nilai-nilai inovasinya sudah ada. Namun, yang perlu digarisbawahi adalah keinginan untuk berbagi itu harus diawali dengan kesungguhan dari yang memiliki gagasan,” jelas Menteri Andrinof.

Konsep pembangunan Teknopolis ini, menurut Menteri Andrinof, sejalan dengan konsep pembangunan kota yang Bappenas rumuskan di RPJMN. “Apa yang dirancang dan dipraktekkan Walikota, adalah membangun pusat kehidupan, bukan membangun kawasan pertumbuhan. Membangun pusat kehidupan artinya membangun kehidupan untuk manusia dan masyarakat. Kalau hanya membangun pusat pertumbuhan mudah, tetapi pusat kehidupannya tidak akan tumbuh,” ungkap Menteri Andrinof.

Teknopolis seluas 800 ha direncanakan sebagai white collar city, yaitu tempat riset dan berkumpulnya perusahaan global yang mencakup empat bisnis – digital media, biopolis, kreatif, dan science – yang bukan berbentuk pabrik ataupun laboratorium.

Menurut Ridwan Kamil, diperlukan percikan-percikan urban yang dapat membuat lingkungan kerja menjadi lebih dinamis, dan yang tidak mematikan kehidupan sosial. “Kalau stress, ke bawah dulu, ngopi, ketemu klien, atau main dulu, sehingga setelah istirahat dapat kembali bekerja dan melahirkan ide-ide kreatif. Ini rumus kota yang saya suntikkan ke Teknopolis,” tambah beliau.

Terkait kompensasi yang diminta pemerintah, Menteri Andrinof menge-mukakan hal berikut. “Kompensasi yang kita minta, Bapak Walikota menjadi penggerak dan juga menginspirasi kota-kota baru yang lain. Apa yang dirancang dan sampai ke konsep bagaimana cara mewujudkannya, dapat diadopsi untuk  pembangunan sepuluh atau beberapa kota baru lainnya. Ini harus benar-benar kita jadikan sebagai pilot projek untuk menjadi prototipe kota-kota baru lain, yang sebagian besar akan kita bangun di luar Jawa,” ungkap Menteri Andrinof.

Kota teknopolis dinilai penting untuk mengangkat peradaban suatu bangsa karena dari kota tersebutlah lahir penemuan-penemuan inovasi. “Kita harus serius melihat peta dana riset negara-negara dunia terhadap inovasi. Investasi terhadap riset berbanding lurus terhadap penemuan-penemuan inovasi. Inovasi yang memiliki nilai ekonomi itulah yang menjadi pertumbuhan ekonomi,” kata Ridwan Kamil.

Ridwan Kamil juga meminta perhatian khusus dari pemerintah pusat. Menurutnya, pemberian dana tidak dapat dipukul rata, karena setiap kota ada hierarkinya, dan kesiapan ekonomi masing-masing daerah berbeda-beda. Di kepemimpinan presiden yang baru, beliau berharap Indonesia memiliki kota-kota juara yang memang layak dan siap secara politis dan planning untuk diberi dana lebih untuk pengembangannya.

“Saya melihat kunci perubahan ada di political will (bukan studi), yang bisa membawa sebuah peradaban lebih cepat. Perlu keberpihakan politik, konsistensi, yang kemudian dikunci dengan peraturan. Saya telah menawarkan Bandung dengan political will saya, dan menjadi kandidat terbaik. Akan tetapi, kalau logikanya nanti kota-kota lain cemburu, ya susah,” jelas Ridwan Kamil.

Terkait hal di atas, Menteri Andrinof merasa hal yang paling diperlukan adalah bukan political will, melainkan political power dan action, dan beliau menjanjikan hal tersebut guna mendukung konsep-konsep praktis proyek tersebut.*

828

Berita Terkait

Comments

Tinggalkan Komentar


(Email anda tidak akan dilihat oleh publik)


Captcha Code

Click the image to see another captcha.

Peta Situs | Beranda | FAQs | Kontak Kami

Situs ini dibangun dengan tampilan adaptif yang otomatis menyesuaikan bila anda menggunakan perangkat mobile

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS)
Jalan Taman Suropati No.2 Jakarta 10310,
Telp. 021 3193 6207 Fax 021 3145 374

 
Copyright © 2019 Kementerian PPN / Bappenas
All Rights Reserved
//