Choose Language
id us

Menteri Suharso Tekankan Pentingnya Perspektif Kewilayahan dalam Transformasi Ekonomi

April 6th, 2021 5:45 pm


Pembangunan Bali pasca pandemi diharapkan menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk keluar dari Middle Income Trap pada 2036. “Perspektif kewilayahan berperan penting dalam transformasi sosial-ekonomi, salah satunya dengan meningkatkan rantai produksi dan rantai nilai daerah, mengoptimalkan keunggulan dan daya saing wilayah, dan meningkatkan kualitas hidup antarwilayah,” tutur Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa dalam Musrenbangprov Bali, Selasa (6/4).

Terlebih kontribusi sektor pariwisata Bali cukup besar di tingkat nasional. Hingga 2020, kontribusi Bali tercatat 6 persen bagi pariwisata nasional. Bali menjadi pintu masuk wisatawan mancanegara dan penghubung perjalanan wisatawan menuju destinasi lain, seperti Lombok, Labuan Bajo, Banyuwangi, dan Bromo Tengger Semeru. “Kontribusi sektor pariwisata di Bali, gabungan sektor akomodasi, makanan dan minuman serta transportasi dan pergudangan, mencapai 30,3 persen dari total ekonomi Bali,” ucap Menteri Suharso.

Namun, pandemi berdampak bagi perekonomian. “Bali terkontraksi 9,3 persen (yoy) dan merupakan provinsi dengan kontraksi terdalam dibandingkan provinsi lain di Indonesia,” ujar Menteri Suharso. Tercatat 177,1 ribu pekerja yang berhenti bekerja dan 166,6 ribu pekerja beralih ke pekerjaan tidak dibayar. Sebanyak 91 ribu pekerja sektor akomodasi makan minum dan 18 ribu pekerja di sektor transportasi berhenti bekerja, serta 83 ribu pekerja beralih ke sektor pertanian. Selain itu, pandemi juga menyebabkan turunnya devisa wisatawan mancanegara hampir 83 persen dan wisatawan nusantara sebesar 56,4 persen.

Menteri Suharso mengatakan perlu memantapkan Bali sebagai pusat ekonomi modern dan bersaing di tingkat global, reaktivasi ekonomi Bali pasca pandemi melalui revitalisasi pariwisata, akselerasi pembangunan Bali Utara dengan bertumpu agroindustri dan ekowisata, serta konektivitas Bali Utara dan Selatan. “Kami juga memetakan keserasian antara fokus RKP 2022 dengan isu-isu strategis Provinsi Bali. Sebagai contoh, kesenjangan antar-sektor, di mana Bali terlalu fokus pada pengembangan sektor unggulan pariwisata. Padahal sektor unggulan lainnya seperti pertanian, industri pengolahan, dan industri kreatif sangat berpotensi menjadi daya ungkit ekonomi baru,” imbuh Menteri Suharso.

Menteri Suharso juga menyampaikan rekomendasi prioritas untuk Bali, yaitu meningkatkan infrastruktur transportasi untuk pemerataan wilayah dan layanan dasar untuk kesehatan, menjaga dan mempertahankan fungsi hutan lindung, serta mengembangkan komoditas unggulan yang bersamaan dengan revitalisasi pariwisata Bali. Dengan pembangunan tersebut, ditargetkan pertumbuhan ekonomi Bali pada 2022 mencapai 5,5-6,3 persen, tingkat kemiskinan mencapai 1,9 persen, serta pengangguran terbuka 0,98 persen.

091

Berita Terkait

Comments

Tinggalkan Komentar


(Email anda tidak akan dilihat oleh publik)


Captcha Code

Click the image to see another captcha.

Peta Situs | Beranda | FAQs | Kontak Kami

Situs ini dibangun dengan tampilan adaptif yang otomatis menyesuaikan bila anda menggunakan perangkat mobile

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS)
Jalan Taman Suropati No.2 Jakarta 10310,
Telp. 021 3193 6207 Fax 021 3145 374

 
Copyright © 2021 Kementerian PPN / Bappenas
All Rights Reserved
//