Choose Language
id us

Berita Pembangunan

Bappenas Dorong Transformasi Sistem Pangan Indonesia

January 29th, 2021 1:59 pm


Meski mengalami kemajuan dibandingkan sejak pandemi Covid-19 melanda pada Maret 2020 lalu, sistem pangan di Indonesia masih perlu diperkuat dan ditingkatkan. Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Kementerian PPN/Bappenas Arifin Rudiyanto mengatakan terdapat sejumlah tantangan dalam ketahanan pangan di Indonesia, di antaranya masih tingginya angka stunting, masalah sampah makanan, konsumsi makanan yang berkualitas, keamanan pangan, dan sumber daya pangan berkelanjutan. “Perhatian kami pada tantangan isu stunting dan sampah makanan tidak hanya dari persentase jumlahnya, tetapi juga mempercepat penurunan angkanya secara signifikan,” ujar Deputi Arifin pada Webinar Transforming Food Systems for Affordable Healthy Diets, Rabu (13/1). Penurunan angka ini juga mencakup peningkatan angka pola pangan harapan.

Sistem pangan merupakan salah satu indikator penting dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Deputi Arifin mengatakan perbaikan sistem pangan ini dapat dilakukan melalui peningkatan ketersediaan, akses, dan kualitas pangan. Terlebih dengan kondisi pandemi yang menyebabkan semakin tingginya angka kemiskinan dan pengangguran berpotensi menurunkan kualitas sistem pangan. Meski sektor pertanian meningkat 2,50 persen sejak Juli 2020, mitigasi potensi krisis pangan, meningkatnya kelaparan, malnutrisi, dan hambatan untuk menjalankan pertanian berkelanjutan perlu menjadi perhatian di tengah pandemi. “Manajemen risiko dan mitigasi harus dipersiapkan untuk membuat transformasi sistem pangan lebih inklusif, terpercaya, dan berkelanjutan,” imbuhnya.

Deputi Arifin mengatakan transformasi sistem pangan perlu dilakukan secara holistik dan sistematis. Selain itu, diperlukan perencanaan dan penganggaran dengan pendekatan yang didorong permintaan untuk mendorong transformasi sistem pangan, termasuk rantai nilai agribisnis, konsumsi pangan, permintaan pangan, logistik pangan, persediaan pangan, dan produksi pangan. Deputi Arifin juga menekankan pentingnya prinsip no one left behind dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (TPB/SDGs) untuk transformasi sistem pangan.

Untuk itu, transformasi ini membutuhkan kolaborasi, kerja sama, dan keterlibatan berbagai pihak, baik dalam tataran kerja sama global, nasional, maupun regional dan dari berbagai latar belakang, mulai dari pemerintah, sektor swasta, kelompok petani, pedagang, hingga konsumen. Kolaborasi berbagai pihak diharapkan dapat membangun sistem pangan inklusif dan terjangkau untuk berbagai komoditas pertanian di Indonesia. “Transformasi ini juga membutuhkan rantai pasok yang inklusif sehingga komoditas bisa sampai ke konsumen secara efisien dan dengan harga yang terjangkau. Hal ini sangat berguna untuk memperkuat transformasi sistem ekonomi dalam cara yang lebih sistematis,” pungkas Deputi Arifin.

272

Berita Terkait

Comments

Tinggalkan Komentar


(Email anda tidak akan dilihat oleh publik)


Captcha Code

Click the image to see another captcha.

Peta Situs | Beranda | FAQs | Kontak Kami

Situs ini dibangun dengan tampilan adaptif yang otomatis menyesuaikan bila anda menggunakan perangkat mobile

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS)
Jalan Taman Suropati No.2 Jakarta 10310,
Telp. 021 3193 6207 Fax 021 3145 374

 
Copyright © 2021 Kementerian PPN / Bappenas
All Rights Reserved
//