PERKEMBANGAN BEBERAPA INDIKATOR MAKRO
Situasi perekonomian Indonesia diliputi awan kelabu selama semester I tahun 1998 ini. Data sangat sementara dari BPS tentang pertumbuhan ekonomi, menunjukkan indikasi kontraksi yang bertambah besar dalam triwulan II dibandingkan triwulan I. Jika pada triwulan I komponen permintaan dari luar (ekspor dan impor) masih memberikan sumbangan positif kepada pertumbuhan ekonomi sementara komponen permintaan dalam negeri sudah kontraksi, maka dalam triwulan II semua komponen mengalami kontraksi. Salah satu faktor penyebab situasi yang memburuk ini adalah rusaknya jaringan distribusi di dalam negeri akibat gejolak sosial politik pada bulan Mei 1998. Dengan kerusakan ini nampaknya pihak asing meragukan kelangsungan persediaan barang dari Indonesia.
Kegiatan ekonomi yang sedang kontraksi antara lain tercermin dari produksi industri di dalam negeri yang merosot tajam. Pertumbuhan produksi mobil hingga triwulan kedua tahun 1998 sudah menurun sekitar - 90 persen di banding triwulan yang sama tahun 1997. Pada triwulan kedua tahun 1997 produksi mobil mengalami periode "boom". Sedangkan pertumbuhan produksi kendaraan roda dua mengalami penurunan sekitar - 80 persen dalam periode yang sama.

(grafik 1. Sumber: GAIKINDO - Gabungan Industri Kendaraan Indonesia, 1998)
Pengaruh langsung dari menurunnya produksi industri dan rusaknya jaringan distribusi adalah meningkatnya harga barang yang cenderung tinggi. Tingkat inflasi dari kelompok pangan mencapai 32,13 persen selama empat bulan pelaksanaan tahun anggaran 1998/99. Kenaikan harga barang pangan yang tergolong tinggi dalam kelompok ini adalah bumbu-bumbuan, lemak dan minyak, serta padi-padian. Selain itu, kenaikan harga yang cukup tinggi juga terjadi pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 29,37 persen dan kelompok sandang sebesar 35,84 persen. Tingkat inflasi umum selama periode tersebut adalah sebesar 25,16 persen. Perkembangan harga ketiga kelompok barang ini terlihat pada grafik 2 berikut ini.

(grafik 2. Sumber: Biro Pusat Statistik (BPS), 1998).
Upaya penyelesaian pembiayaan perdagangan telah menunjukkan hasil awal yang menggembirakan dengan meningkatnya ekspor non-migas selama triwulan pertama tahun 1998 sebesar 11,5 persen dibanding periode yang sama tahun 1997. Beberapa komoditi yang berpotensi menunjang ekspor dalam tahun ini antara lain emas, semen dan bahan bangunan, kulit dan hasil dari kulit. Sementara itu, penerimaan dari ekspor migas merosot tajam sebesar -28,9 persen dalam triwulan pertama tahun 1998 dibanding triwulan pertama tahun 1997. Pasar minyak dunia tampaknya sedang mengalami "over supply" yang tercermin dari terus menurunnya harga minyak mentah Indonesia menjadi 12,09 dollar AS per barel pada bulan Juni 1998.

(grafik 3. Sumber: Bank Indonesia, 1998).
Dalam rangka menekan laju inflasi, kondisi uang ketat diperkirakan tetap mewarnai perkembangan moneter hingga September 1998. Berdasarkan target indikatif yang disusun bersama IMF, maka Bank Indonesia hanya dapat meningkatkan jumlah uang primer sebesar Rp 1,1 triliun dalam periode Juni hingga September 1998. Dalam triwulan ketiga tahun 1998 ini, pertambahan uang primer terutama akan berasal dari kenaikan cadangan luar negeri bersih (NIR). Sedangkan ekspansi dari sisi aset domestik bersih (NDA) relatif kecil. Pada sisi NDA pengaruh ekspansi diperkirakan masih berasal dari meningkatnya bantuan likuiditas kepada perbankan. Dana ini terutama diperlukan untuk membantu perbankan yang dibekukan status operasinya dan diambil alih pengelolaannya oleh BPPN.
|
Indikator |
Satuan |
September ý98 |
Desember ý98 |
Maret ý99 |
|
Aset Domestik Bersih (NDA) |
triliun Rp. |
-67,5 |
-50,9 |
-54,3 |
|
Uang Primer |
triliun Rp. |
69,7 |
74,3 |
77,6 |
|
Bantuan Likuiditas |
triliun Rp. |
173,1 |
174,6 |
175,1 |
|
Surplus/ Defisit APBN |
triliun Rp. |
-30,0 |
-51,0 |
-81,3 |
|
Cadangan Luar Negeri Bersih (NIR) |
miliar USD |
13,7 |
12,5 |
13,2 |
Tabel 3
Beberapa Sasaran Indikatif Ekonomi Makro 1998/99
Sumber : Annex of Indonesia Memorandum of Economic and Financial Policies, July 1998
Dengan kondisi jumlah uang primer yang ketat, maka tingkat suku bunga diperkirakan masih relatif tinggi hingga akhir September 1998. Upaya Bank Indonesia untuk menggeser suku bunga tinggi pada simpanan berjangka lebih panjang pada kondisi ini mungkin sulit dilakukan. Hal ini terkait dengan masih ketatnya kondisi likuiditas perbankan seperti tercermin dari tetap tingginya suku bunga pasar uang antar-bank (PUAB). Namun demikian periode tingkat suku bunga tinggi selama triwulan kedua tahun 1998 telah meningkatkan jumlah simpanan berjangka diperbankan sekitar Rp 100 triliun. Secara perlahan namun pasti jumlah dana masyarakat di perbankan akan makin meningkat. (BOB).

(grafik 4. Sumber: Bank Indonesia, 1998).
Membuat Komentar