PERKEMBANGAN HARGA-HARGA
Harga minyak dunia sejak lebih dari setahun yang lalu masih cenderung melemah. Bersamaan dengan itu, harga minyak mentah Indonesia juga cenderung melemah, yaitu dari US$ 14,5/bbl dalam bulan Januari 1998 hingga mencapai US$ 10,6/bbl dalam bulan Pebruari 1999. Kecenderungan ini menurut majalah The Economist, tanggal 6 Maret, mungkin akan terus berlanjut hingga harga minyak dunia dapat mencapai US$ 5/bbl seperti masa pra OPEC. Menyikapi hal tersebut, OPEC dalam pertemuan terakhir di Viena, Austria sepakat untuk menurunkan produksinya sebesar 2,1 juta bbl/hari dan didukung oleh produsen minyak non OPEC (Meksiko, Oman, Norwegia, Rusia) untuk menurunkan produksinya sebesar 400 ribu bbl/hari.
Laju inflasi bulanan memperlihatkan kecenderungan yang melambat meskipun pada Januari 1999 tercatat cukup tinggi, yaitu 3,0 persen, sebagai dampak dari peningkatan permintaan untuk Idul Fitri. Bahkan pada bulan Maret 1999 terjadi deflasi sebesar -0,2 persen. Terjadinya deflasi pada bulan Maret terutama didorong oleh penurunan harga beras seperti tercermin oleh terjadinya deflasi sebesar -2.1 persen pada subkelompok padi-padian, umbi-umbian dan hasil-hasilnya. Sumbangan komoditi beras terhadap pembentukan indeks harga konsumen (IHK) masih cukup besar. Berdasarkan survai biaya hidup (SBH) 1996, nilai konsumsi beras terhadap nilai konsumsi total rata-rata mencapai 4,8 persen. Penurunan indeks harga yang cukup besar juga terjadi pada subkelompok bumbu-bumbuan, yaitu sebesar -7,0 persen.
Membuat Komentar