BAB II
KERANGKA KERJA LOGIS
2.1. Pengertian
Kerangka Kerja Logis (KKL) merupakan ringkasan proyek yang menunjukkan tingkatan tujuan-tujuan proyek serta hubungan sebab akibat pada setiap tingkatan indikator dan sasaran kinerja. KKL berguna untuk mendapatkan pemahaman dan pencapaian kesepakatan serta untuk mengetahui secara rinci tujuan proyek, baik secara mikro maupun makro.
KKL dibuat secara singkat tetapi cukup rinci, sehingga dengan hanya melihat kerangka kerja logis, garis besar isi keseluruhan proyek sudah dapat diketahui. KKL dibuat pada saat proyek direncanakan untuk disertakan dalam dokumen usulan proyek. Matrik KKL sebaiknya selalu diperbaiki sesuai dengan perubahan yang terjadi dalam perkembangan perencanaan dan pelaksanaan proyek.
KKL dapat dipakai untuk menilai proyek pada setiap tahap, yaitu tahap perencanaan (ex-ante = appraisal), tahap pelaksanaan (on-going evaluation) dan tahap selesainya proyek (ex-post evaluation).
|
appraisal |
Implementation |
completion |
|
|
||
|
ex-ante evaluation |
on-going evaluation |
ex-post evaluation |
Penyusunan KKL mencakup :
- menentukan masukan, keluaran, hasil, manfaat dan dampak proyek dalam suatu indikator dan sasaran kinerja;
- menentukan indikator atau ukuran yang dapat menunjukan tingkat pencapaian setiap tujuan secara kuantitatif;
- hubungan kausal (means-end) antara indikator-indikator tersebut;
- asumsi-asumsi yang mengikuti tujuan di setiap tingkatan, yaitu faktor-faktor luar (eksternal) yang tidak dapat dikontrol oleh proyek, tetapi dapat mempengaruhi tercapainya tujuan proyek dan hubungan antara masukan, keluaran, hasil, manfaat dan dampak.
2.2. Struktur Kerangka Kerja Logis
KKL disajikan dalam bentuk matrik 5x4 (5 baris dan 4 kolom) yang menunjukkan tingkatan tujuan proyek, serta hubungan antara masukan dan keluaran yang diharapkan dari proyek. Logika vertikal (Vertical logic) dibaca dari baris ke baris menjelaskan tentang logika kegiatan proyek. Sedangkan logika horizontal (horizontal logic) dibaca dari kolom ke kolom, menjelaskan pencapaian tujuan proyek pada setiap tingkatan. Dari KKL ini perencana dan penilai proyek dapat melihat dengan jelas seluruh kegiatan proyek beserta informasi proyek, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
2.3. Matrik Kerangka Kerja Logis
2.3.1. Logika Vertikal (dibaca dari baris bawah ke atas)
Baris I : Masukan dan Kegiatan.
Informasi mengenai rincian kegiatan proyek dan segala sesuatu yang dibutuhkan (dana, sumberdaya manusia dan faktor produksi lainnya) untuk menghasilkan keluaran.
Baris 2 : Keluaran.
Hasil spesifik yang diharapkan langsung dari pelaksanaan kegiatan proyek baik fisik maupun non fisik.
Baris 3 : Hasil.
Informasi mengenai latar belakang diproduksinya output. Menunjukkan fungsi langsung yang diharapkan dari keluaran setelah pelaksanaan proyek selesai.
Baris 4 : Manfaat.
Hal yang diharapkan untuk dicapai bila keluaran dapat diselesaikan dan berfungsi dengan optimal (tepat lokasi, tepat waktu).
Baris 5 : Sasaran/Dampak.
Informasi yang menunjukkan dasar pemikiran dilaksanakannya proyek. Menggambarkan aspek makro proyek, tujuan proyek secara sektoral, regional maupun nasional.
2.3.2. Logika Horisontal (dibaca dari kolom kiri ke kanan)
Logika horisontal yang dibaca dari kolom ke kolom menunjukkan ukuran kegiatan proyek yang berhubungan dengan tujuan proyek disemua tingkatan indikator dan sasaran kinerja.
Kolom 1 : Ringkasan Narasi (Narrative Summary).
Penjabaran proyek dan tujuannya di semua tingkatan secara kualitatif.
Kolom 2 : Rincian indikator dan sasaran kinerja secara kuantitatif (Objectively Verifiable Indicators-OVI).
Menunjukkan indikator-indikator yang menjelaskan secara kuantitatif hasil yang ingin dicapai pada setiap tingkatan indikator dan sasaran kinerja.
Kolom 3 : Alat penjelasan dan pembuktian (Means of Verification-MOV).
Alat/sumber informasi/data yang digunakan untuk menjelaskan indikator dan sasaran kinerja pada kolom 2.
Kolom 4 : Asumsi-asumsi terpenting (Important Assumptions).
Asumsi-asumsi terpenting yang mengikuti tujuan disetiap tingkatan. Merupakan faktor-faktor eksternal (diluar kontrol pengelola proyek) yang dapat mempengaruhi pencapaian tujuan indikator dan sasaran kinerja disemua tingkatan. Apabila hasil proyek tidak sesuai dengan rencana, maka penilai dapat meneliti kolom 4, apakah asumsi yang diperkirakan dalam perencanaan terpenuhi/tidak. Penentuan asumsi harus dilakukan dengan cermat, karena hanya asumsi terpenting saja yang layak dicantumkan.
Bentuk dan rincian kerangka kerja logis dapat dilihat pada Tabel 1.
Membuat Komentar