Senin (04/03) Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Prof. Dr. Armida S. Alisjahbana, telah menerima kunjungan HE Pia Olsen Dyhr, Minister of Trade and Investment of Denmark, yang disertai oleh antara lain HE Martin Hermann, Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Mr. Anders Graugaard, Special Assistant to the Minister, dan Ms Sisse Norman Canguilhem, Section Head of Danida Business Finance. Menteri PPN didampingi oleh Ir. Wismana Adi Suryabrata, MIA, Deputi Bidang Pendanaan Pembangunan, Dr. Ir. Dedy Supriadi Priatna, MSc, Deputi Bidang Sarana dan Prasarana, Dr. Ir. Endah Murniningtyas, MSc, Deputi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup, Dr. Prasetijono Widjojo MJ, MA, dan Thohir Afandi, S.Pd, MPA, Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Tata Usaha Pimpinan. Pertemuan diadakan di Ruang Pertemuan Serba Guna 2, dan berlangsung dari pukul 10.00 sampai dengan pukul 11.10 WIB.


HE Pia Olsen Dyhr menyampaikan bahwa terbuka luas peningkatan hubungan kerjasama antara Denmark dan Indonesia yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Dalam kaitan ini Menteri Dyhr mengingatkan bahwa walaupun potensi sumber daya alam Indonesia sangat besar, hendaknya pertumbuhan ekonomi tidak ditingkatkan semata-mata untuk meningkatnya pertumbuhan tetapi juga harus memperhatikan keberlanjutannya. Menurutnya, Denmark telah mempunyai cukup banyak pengalaman dalam upaya pengembangan energi yang terbaharukan, yang diharapkan dapat diterapkan di Indonesia. Contoh upaya Denmark yang telah sangat berhasil menurutnya adalah pengembangan sumber daya angin (wind energy) untuk pembangkitan listrik. Saat ini, katanya, 25 persen dari energi listrik Denmark bersumber dari wind energy dan diharapkan pada tahun 2020 dapat menjadi 50 persen. HE Pia Olsen Dyhr melanjutkan bahwa Denmark dan Indonesia sebagai penandatangan Kyoto Protocol bersama-sama mempunyai komitmen untuk menjamin agar peningkatan pemanasan global tidak melebihi 2 derajat Celcius pada tahun 2020. HE Dyhr melanjutkan bahwa selain dalam upaya menurunkan pemanasan global, Indonesia dan Denmark juga mempunyai common grounds dalam upaya liberalisasi perdagangan internasional melalui forum WTO.


Menteri PPN mengatakan bahwa keadaan ekonomi makro Indonesia cukup mantap, yang ditandai oleh pertumbuhan ekonomi sebesar 6.2 persen walaupun keadaan ekonomi dunia belum pulih benar. Untuk memelihara momentum pertumbuhan maka saat ini sedang dilaksanakan MP3EI yang juga akan memperhatikan pelestarian lingkungan dan Indonesia juga menganut strategi pembangunan yang selain pro-growth, juga pro-poor, pro-job, dan pro-environment. Mengenai program hibah Denmark dalam bentuk ESP III (Environmental Support Program Phase III, 2013-2017), Menteri PPN mengatakan bahwa ketiga komponen ESP III ini mempunyai peranan untuk peningkatan capacity building Indonesia dalam melaksanakan upaya penghelolaan lingkungan, meingkatkan efisiensi energi, dan meningkatkan kegiatan pengelolaan sumber daya alam termasuk rehabilitasi hutan (REDD+).


Deputi Bidang Sarana dan Prasarana mengatakan bahwa Indonesia saat ini belum berhasil untuk memanfaatkan wind energy sebagaimana telah dicapai di Denmark, sehingga Indonesa ingin belajar dari pengalaman Denmark. Deputi Bidang Pendanaan Pembangunan mengatakan bahwa Indonesia akan sangat selektif dalam penggunaan dana pinjaman agar tidak membebani APBN.
HE Pia Olsen Dyhr mengatakan bahwa untuk meningkatkan investasi dunia usaha Denmark ke Indonesia perlu ditemui suatu ‘right match’ antara semua instrumen kebijakan kedua negara, untuk mana HE Pia mengharapkan adanya pengurangan jumlah ‘Negative Investment List’.

(Humas)




Unduh Dokumen