Kamis (21/02), Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Prof. Dr. Armida S. Alisjahbana, telah menerima kunjungan Mr. Stefan Koeberle, Counry Director of World Bank in Indonesia, yang disertai oleh Mr. Ndiame Diop, Lead Economist, Miss Josephine Bassinette, Manager of Operations and Portfolio, Mr. George Soraya, Lead Municipal Engineer, dan Mr. Yogana Prasta, Operations Advisor dari Bank Dunia di Indonesia. Menteri PPN didampingi oleh Dr. Slamet Seno Adji, MA., Sesmen PPN/Sestama Bappenas, dan RM Dewo Broto Joko P, SH, LLP, Direktur Pendanaan Luar Negeri Multilateral. Pertemuan diadakan di Ruang Tamu Menteri dan berlangsung dari pukul 14.05 sampai dengan pukul 15.15 WIB.

Mr. Stefan Koeberle mengatakan bahwa tujuan kunjungannya ini untuk menyampaikan Buku Country Partnership Strategy 2013-2015 of the World Bank in Indonesia. Dalam kaitan ini, ia mengharapkan agar CPS 2013-2015 ini dapat ikut memelihara continuity dalam kegiatan pembangunan nasional. Menurutnya CPS 2013-2015 telah diupayakan agar sinergis (closely aligned) dengan strategi pembangunan Indonesia khususnya dalam segi kebijakan yang pro-growth, pro-job, pro-poor, dan pro-environment. Menurut Koeberle, dalam proses perumusannya, CPS 2013-2015 ini telah mengakomodasi berbagai masukkan, termasuk dari Bappenas, yang meminta ikut dipertimbangkan peningkatan peranan Indonesia dalam South-South and Triangular Cooperation. Mr. Koeberle juga mengatakan bahwa dalam proses penyusunannya, CPS 2013-2015 telah dievaluasi secara ketat oleh berbagai pihak termasuk oleh Board of Directors. Umumnya, evaluasi ini memberi penilaian yang positif pada kegiatan pembangunan Indonesia dan program World Bank di dalamnya, misalnya dalam hal program PNPM dan Disaster Relief Programs. Mr. Koeberle lalu memberi catatan tentang hubungan yang dinamis antara Indonesia dan Bank Dunia, khususnya yang menyangkut posisi Indonesia sebagai middle income economy dan berubahnya pola pembiayaan seperti adanya instrumen Trust Funding, yang paling sesuai untuk Indonesia. Mr. Ndiame Diop (Lead Economist) menambahkan bahwa Indonesia perlu waspada terhadap gejala middle income trap, dan bahwa window of opportunity untuk menangannya hanya terbuka sampai dengan tahun 2025 ketika demographic dividend akan berakhir. Menteri PPN menanggapi hal ini dengan mengharapkan agar dimasa depan ketika Bank Dunia lebih cenderung pada fasilitasi pembiayaan swasta, dapat dipelihara cara pembiayaan yang memberi semacam cross-subsidy antara keperluan pembiayaan swasta dengan kebutuhan pembiayaan program sosial.

Mr. Koeberle lalu menyampaikan undangannya kepada Menteri PPN untuk dapat pada tanggal 4 April menghadiri peringatan 60 tahun hubungan Indonesia dan Bank Dunia. Menurut Koeberle, dalam perkembangan 60 tahun ini hubungan Indonesia dan Bank Dunia mengalami pasang surut seperti pada tahun 1962 ketika kegiatan Bank Dunia di Indonesia dihentikan dan tahun 1968 ketika peran Bank Dunia mulai meningkat lagi. Dalam evolusi hubungan ini, Mr. George Soraya menunjuk pada gejala bahwa selama itu, bukannya Bank Dunia yang banyak memberi arahan kepada Indonesia, tetapi justru Indonesialah yang telah berbagi pengalamannya kepada Bank Dunia dalam banyak pengalaman kebijakan pembangunannnya, seperti dalam pengembangan PNPM, yang dapat direplikasi oleh negara-negara lain.

(Biro Humas)



Lainnya