Informasi Pembangunan

Perkembangan Ekonomi Indonesia dan Dunia Triwulan III Tahun 2016

September 1st, 2016 3:18 pm


Ringkasan Eksekutif 

Pada triwulan III tahun 2016, perekonomian negara-negara di beberapa kawasan masih tumbuh melambat. Uni Eropa tumbuh sebesar 1,6 persen (YoY), melambat dibandingkan triwulan III tahun 2015 sebesar 2,0 persen (YoY). Ekonomi Uni Eropa masih dapat tumbuh positif karena masih tumbuhnya permintaan domestik dan investasi dibidang konstruksi serta adanya kebijakan suku bunga rendah European Central Bank (ECB). Di sisi lain, Amerika Serikat (AS) tumbuh sebesar 2,9 persen (YoY), merupakan fase tercepat dalam dua tahun terakhir. Pertumbuhan tersebut dipengaruhi oleh penguatan kinerja ekspor yang tumbuh sebesar 10,0 persen (YoY) yang merupakan kenaikan terbesar sejak triwulan IV tahun 2013, serta kenaikan inventori investasi.

Perekonomian Tiongkok tumbuh sebesar 6,7 persen (YoY) dan merupakan pertumbuhan terendah sejak tahun 2009, yang dipengaruhi oleh melambatnya nvestasi swasta dan kinerja ekspor. Pertumbuhan ekonomi tersebut ditopang oleh pemerintah dan sektor perumahan sehingga mencegah pelemahan ekonomi Tiongkok yang tajam. Sementara itu, perekonomian Jepang tumbuh sebesar 2,2 persen (YoY), lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya, akibat perbaikan kinerja ekspor selama tiga triwulan berturut-turut yang disebabkan oleh kenaikan pengiriman komponen smartphone.

Perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,0 persen (YoY), meningkat dibandingkan triwulan III tahun 2015 yang sebesar 4,7 persen (YoY) namun lebih rendah dibandingkan triwulan II tahun 2016 yang sebesar 5,2 persen (YoY). Secara kumulatif sampai dengan triwulan III tahun 2016, ekonomi Indonesia dapat tumbuh sebesar 5,0 persen. Dari sisi domestik, kinerja pertumbuhan ekonomi didorong oleh terjaganya permintaan domestik terutama konsumsi rumah tangga yang tumbuh cukup kuat, namun realisasi belanja pemerintah APBN lebih rendah dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya akibat pemotongan anggaran. Hingga akhir triwulan III tahun 2016  inflasi sebesar 3,07 persen (YoY) dengan IHK 125,4 basis poin, menurun dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya.

Secara spasial, seluruh pulau/wilayah mengalami pertumbuhan positif dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi paling tinggi di Maluku dan Papua. Rata-rata pertumbuhan di wilayah Maluku dan Papua; Sulawesi; Jawa; serta Bali dan Nusa Tenggara lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional. Sementara itu, perkembangan kontribusi daerah terhadap PDB dari tahun ke tahun relatif tidak banyak berubah. Kontribusi terbesar terhadap PDB dari triwulan I tahun 2010 sampai dengan triwulan III tahun 2016 didominasi  pulau Jawa, yaitu sebesar 58,4 persen.

Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan III tahun 2016 mengalami suplus sebesar USD5,7 miliar. Kinerja tersebut meningkat signifikan dibandingkan dengan NPI pada triwulan III tahun 2015 yang defisit sebesar USD4,6 miliar maupun triwulan II tahun 2016 yang surplus sebesar USD2,2 miliar. Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh menurunnya defisit pada neraca transaksi berjalan dan meningkatnya surplus neraca transaksi modal dan finansial secara signifikan.

Total ekspor Indonesia pada sampai dengan akhir triwulan III tahun 2016 sebesar USD104,4 miliar, mengalami penurunan sebesar 9,4 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2015. Hal ini sejalan nilai impor Indonesia secara total adalah sebesar USD98.693,4 juta atau menurun sebesar 8,6 persen (YoY). Sementara itu, cadangan devisa Indonesia pada triwulan III tahun 2016 mencapai sebesar USD115,7 miliar atau setara dengan 8,5 bulan impor.

Realisasi Penerimaan Perpajakan hingga September 2016, mencapai Rp 896,3 triliun atau sekitar 58,2 persen dari APBN-P 2016. Realisasi pembiayaan defisit hingga September 2016 mencapai Rp392,4 triliun, lebih tinggi dibandingkan target APBN-P 2016 (sebesar Rp296,7 triliun). Dari jumlah tersebut, pinjaman dalam negeri mendominasi dengan nominal sebesar Rp405,1 triliun. Sementara itu, realisasi pinjaman luar negeri (neto) hingga September 2016 sebesar minus Rp12,7 triliun. Disisi lain, realisasi PMDN mengalami pertumbuhan positif sebesar 16,2 persen (YoY) dibandingkan triwulan III tahun 2015 yaitu sebesar Rp55,6 triliun. Sementara itu, realisasi PMA mengalami penurunan dengan tumbuh negatif sebesar -0,2 persen (YoY) menjadi sebesar USD7.389,5 juta.

Penjualan mobil tumbuh sebesar 5,1 persen (YoY) walaupun secara nilai mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya, yaitu sebesar 251.340 unit. Sementara itu, penjualan motor kembali mengalami pertumbuhan negatif sebesar -16,0 persen (YoY) dengan penjualan sebesar 1,3 juta kendaraan. Penjualan semen tumbuh sebesar 3,3 persen (YoY), yaitu mencapai 15,2 juta ton pada triwulan III tahun 2016. Secara kumulatif, penjualan semen pada Januari hingga September 2016 sebesar 44,7 juta ton, meningkat 3,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2015. Sementara itu, jumlah kunjungan
wisatawan mancanegara (wisman) adalah sebesar 3,1 juta wisman atau tumbuh sebesar 21,2 persen, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2015 dan 2014.

 

 

 

 

 

1277

Berita Terkait

Comments

Tinggalkan Komentar


(Email anda tidak akan dilihat oleh publik)


Captcha Code

Click the image to see another captcha.

Peta Situs | Beranda | FAQs | Kontak Kami

Situs ini dibangun dengan tampilan adaptif yang otomatis menyesuaikan bila anda menggunakan perangkat mobile

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS)
Jalan Taman Suropati No.2 Jakarta 10310,
Telp. 021 3193 6207 Fax 021 3145 374

 
Copyright © 2017 Kementerian PPN / Bappenas
All Rights Reserved